Pengadaan Material dan Subkontraktor

Posted by Taufick Max Kamis, 30 Mei 2013 0 komentar

Pengadaan Material dan Subkontraktor

Pengadaan MAterial Subkontraktor
Pengadaan Material dan Subkontraktor- Setelah kita menentukan lingkup proyek dan menjabarkannya pada desain-engineering terinci, maka akan mulai terlihat jenis dan  material  serta peralatan yang diperlukan untuk membangun proyek. Dengan demilikinya data-data dan keterangan tersebut, selanjutnya  dapat dimulai kegiatan pengadaan atau pembelian dan subkontrak. 

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai bidang dalam organisasi proyek, bahkan sering juga mencakup perusahaan induk pemilik proyek dan pelaksana, seperti bidang-bidang engineering, pengendalian mutu, kontrol proyek, dan pembelian (procurement). Adapun pemilihan apakah suatu pekerjaan dilakukan sendiri atau di subkontrakkan, terutama didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan kemampuan dari pihak pelaksana proyek (pemilik atau kontraktor utama).


Pembelian Material

Proses pembelian barang lazimnya dimulai dengan adanya usulan dari pihak pemakai untuk pengadaan material dan peralatan tertentu kepada bidang pembelian dalam organisasi proyek. Untuk menjaga agar jumlah, mutu, ukuran, dan persyaratan lain dari barang yang dibeli sesuai dengan yang dikehendaki, maka penyusunan  MR (material requisition) dilakukan bersama antara bidang engineering, bidang pengendalian mutu, dan bidang pembelian. 

Di dalam MR perlu dijelaskan keterangan yang berhubungan dengan kualitas dan kuantitas, di samping hal-hal lain yang diperlukan oleh rekanan untuk menghitung harga penawaran. Misalnya, cara dan jenis pembungkusan, keterangan penyerahan barang apakah FOB atau FIC, dan metode pengangkutan.

Meneliti Kesiapan Perusahaan Rekanan

Sebagian komponen unit instalasi industry terdiri dari peralatan yang pabrikasinya memerlukan teknologi tinggi, memakan waktu lama, dan harga mahal. Seringkali jadwal penyelesaian  proyek secara keseluruhan sngat bergantung pada waktu yang telah ditetapkan. 

Oleh karena itu, pembelian peralatan memerlukan perhatian penuh sejak awal, dimulai dari penelitian perusahaan yang akan diundang dalam lelang bukan saja tentang pengalaman yang telah dikerjakan di masa lalu, tetapi juga memeriksa hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan masa sekarang. 

Untuk hal ini, salah satu cara yang lazim digunakan adalah dengan mengunjungi pabrik tempat peralatan tersebut dibuat, melihat fasilitas produksinya, dan mengumpulkan keterangan dari tangan pertama. Keterangan ini meliputi:

•    Kemampuan perusahaan dari segi teknis, yang dapat terlihat dari tersedianya alat-alat produksi dan tenaga ahli;
•    Cukup tidaknya kapasitas yang tersedia untuk memenuhi pesanan peralatan yang diperlukan proyek; dan
•    Cukup tidaknya perhatian terhadap aspek tertentu, misalnya pada masalah pengendalian mutu.

Di samping itu, diperlukan pula keterangan yang berkaitan dengan masalah keuangan perusahaaan dan sejarah hubungannya dengan buruh pabrik, misalnya bila terjadi sengketa dengan buruh atau pemogohan. Semua keterangan yang didapat dari hasil kunjungan ke beberapa perusahaan atau pabrik yang potensial akan menjadi rekanan proyek, akan merupakan bahan pertimbangan pokok untuk menentukan calon peserta lelang.

Evaluasi Penawaran dan Menentukan Pemenang

Agar memperoleh suatu harga yang bersaing, kontraktor mengadakan lelang di antara perusahaan-perusahaan yang telah lulus dari penelitian di atas. Penawaran yang masuk dicatat di dalam lembaran tabulasi penawaran, sehingga kontraktor dapat dengan mudah membandingkan angka-angka penawaran masing-masing rekanan.

Sebelum diajukan kepada pemilik untuk persetujuan, kontraktor mengadakan evaluasi atas penawaran yang masuk, termasuk analisis dan penjelasan penyimpangan-penyimpangan yang mungkin ada terhadap spesifikasi dan syarat yang ditentukan oleh proyek, dan akhirnya membuat usulan pemenang dengan didukung oleh alasan teknis maupun komersial. Penentuan pemenang lelang jatuh kepada rekanan yang mengajukan harga akhir terendah. Harga akhir ini adalah harga penawaran semula setelah diadakan penyesuaian-penyesuaian dari hasil evaluasi teknis, atau sering juga disebut the lowest evaluated price (harga terendah setelah dievaluasi).

Surat Kontrak Pembelian

Ikatan yang terjadi antara penjual dan pembeli dituangkan dalam Surat Kontrak Pembelian, atau dikenal dengan nama purchase Order__PO. Di dalam Surat Kontrak Pembelian, di samping syarat komersial, seperti harga peralatan, biaya angkutan, cara pembayaran,  potongan harga, dan jaminan, juga perlu dicantumkan syarat-syarat umum yang meliputi titik penyerahan (FOB), jadwal penyerahan, tujuan pengiriman (consignee), prosedur pemeriksaan, peraturan-peraturan pemerintah yang harus dipenuhi, pajak, bea masuk, dan lain-lain. Surat kontrak pembelian asli yang telah ditandatangani oleh pembeli dan penjualan merupakan dokumen yang memiliki kekuatan hokum dan dipakai sebagai patokan pelaksanaan pekerjaan yang berhubungan dengan pembelian material dan peralatan.

Dengan dikeluarkannya PO, berarti langkah penting proses pengadaan material telah dilaksanakan. Tetapi ini belum berarti material dan peralatan yang dipesan dengan sendirinya akan tiba di lokasi proyek pada waktu dan kondisi sesuai dengan yang diharapkan. Pemantauan terhadap mutu, jadwal, dan kinerja peralatan pada proses manufaktur masih diperlukan.

Baca Artikel Lain di Bawah ini :



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Keselamatan Kerja Konstruksi

Posted by Taufick Max 0 komentar

Keselamatan Kerja Konstruksi 

Keselamatan Kerja KOnstruksi, Kesehatan Kerja KOnstruksi
Keselamatan Kerja Konstruksi - Pada tahap konstruksi, penggunaan tenaga kerja mencapai puncaknya dan terkonsentrasi di tempat atau lokasi proyek yang relatif sempit. Ditambah sifat pekerjaan yang potensial mudah menjadi penyebab kecelakaan (elevasi, temperatur, arus listrik, mengangkut benda-benda berat, dan lain-lain), maka sudah sewajarnya bila pengelola proyek mencantumkan masalah keselamatan kerja pada prioritas pertama.

Di samping itu, hal-hal lain yang mendorong keselamatan harus selalu diperhatikan adalah:


Rasa Peri Kemanusiaan Penderitaan yang dialami oleh yang bersangkutan akibat kecelakaan tidak dapat diukur dengan uang, adanya konpensasi hanya membantu meringankan.
Pertimbangan Ekonomis pertimbangan ini dapat berupa biaya konpensasi, kenaikan premi asuransi, kehilangan waktu kerja, atau jam-orang. Juga penggantian alat-alat yang mengalami kerusakan akibatnya kerusakan.

Program dan Organisasi Kesalamatan Kerja

Dengan menyadari pentingnya aspek kesalamatan dalam penyelanggaraan proyek, teru tama pada implementasi fisik , maka perusahaan engineering-konstruksi umumnya memiliki organisasi atau bidang dengan tugas khusus menangani keselamatan kerja. Lingkup kerjanya mulai dari menyusun program, membuat prosedur, dan mengawasi, serta membuat laporan penerapan di lapangan. Unsure-unsur program keselamatan yang terpenting di antaranya adalah:

Pernyataan Kebijakan Perusahaan Mengenai Program Keselamatan Di sini dinyatakan tentang dukungan pimpinan perusahaan atas terlaksananya program keselamtan kerja. Seringkali tujuan program tersebut direncanakan untuk dicapai setahap demi setahap. Pada awalnya dipilih yang paling penting. Tidak sulit untuk menerapkanya, dan dapat dipantau secara efektif. Tingkat selanjutnya semakin ketat dengan pengawasan yang lebih cermat.

Membentuk Organisasi dan pengesian Personil     Organisasi keselamatan yang tersusun kemudian diberi wewenang dan tanggung jawab masalah keselamatan kerja.

Memelihara Kondisi Kerja Memenuhi persyaratan Keselamatan Pemerintah dan perusahaan yang bersangkutan pemiliki berbagai peraturan keselamatan, antara lain:

•Memberikan tempat kerja, perlengkapan serta peralatan kerja yang aman (safe) dari segi keselamatan kerja;
•Menyusun prosedur kerja lengkap dan terinci bagi pekerjaan yang dianggap berbahaya.
Membuat Laporan Terjadinya Kecelakaan dan Menganalisa Penyebabnya    Laporan ini merupakan sumber informasi yang berharga bagi perbaikan  program dan prosedur keselamatan kerja.

Menyiapkan Fasilitas Pertolongan Pertama Bertujuan untuk menolong korban kecelakaan ringan, dan perawatan dasar bagi kecelakaan berat sebelum bantuan dari rumah sakit tiba. Fasilitas pertolongan pertama dilengkapi dengan obat-obat dan peralatan yang sesuai dengan fungsinya.

Perusahaan Engineering-konstruksi dengan prestasi keselamatan kerja yang baik akan meningkatkan penilaian dan pandangan umumnya terhadapnya, karena mencerminkan adanya pengelola dan pelaksana yang kompeten, pada giliran selanjutnya akan mempermudah  usaha mendapatkan proyek baru.

•Misalnya keselamatan kerja menempati urutan pertama sebagai aspek yang harus diperhatikan dalam menyelenggarakan proyek, terutama pada tahap konstruksi. Hal ini disebabkan  oleh karena pada tahap ini, terkumpul sejumlah besar tenaga kerja di area yang relative sempit. Ditambah lagi sifat pekerjaan konstruksi adalah rawan kecelakaan (elevasi lain-lain).

•Unsur-unsur program keselamatan kerja yang terpenting  adalah pernyataan dan kebijakan perusahaan, organisasi dan personil, menjaga kondisi kerja untuk memenuhi syarat-syarat keselamatan, membuat laporan dan analisis penyebab kecelakaan, dan menyediakan fasilitas pertolongan pertama pada kecelakaan.


Baca Artikel Lain di Bawah ini :


Baca Selengkapnya ....
Share on :

Pengelolaan Alat-Alat Konstruksi

Posted by Taufick Max 2 komentar

Pengelolaan Alat-Alat Konstruksi


 

Pengelolaan Alat-Alat Konstruksi- Di samping material dan peralatan yang akan menjadi bagian tetap dari instalasi, seperti alat penukar panas, drum, reactor, dan lain-lain, juga diperlukan alat konstruksi atau alat berat (construction equipment/heavy equipment) yang digunakan untuk membuat tenaga kerja lapangan. Dewasa ini dengan tersedianya berbagai macam alat-alat konstruksi, baik mengenai kapasitas maupun spesialisasinya, maka evektivitas dan efisiensi penggunaannya terletak kepada program pengelolaan dan tingkat disiplin dalam melaksanakan program tersebut. adapun program tersebut meliputi seleksi pengadaan, operasi dan pemeliharaan, keputusan membeli atau menyewa, dan standardisasi.

Memilih Alat-alat Konstruksi

Langka pertama dalam program tersebut adalah memilih jenis atau tipe, dan kapasitas alat alat konstruksi yang bersangkutan. Faktor-faktor yang perlu dikaji adalah:

Spesifikasi Alat Konstruksi

Bila keperluannya telah dapat diidentifikasi dengan jelas, maka kemudian ditentukan spesifikasi alat-alat konstruksi yang bersangkutan. Spesifikasi harus mempertimbangkan kondisi lapangan, jenis, dan volume pekerjaan, sebagai berikut.

•Keadaan tanah di lokasi, lunak atau banyak berkarang.
•Keadaan iklim, kering, hujan, atau salju.
•Topografi, tanah datar, rata, miring, atau berbukit, dan lain-lain.
•Jenis kegiatan (pengerjaan tanah, saluran pengangkatan, mengangkut, pengerukan, dan lain-lain).
•Jumlah atau volume, berat material, dan peralatan yang perlu diangkut ataudiangkat (lifting/rigging).

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya berbagai sarana tambahan atau terkait (feature and attachment), yang memungkinkan memperluas aplikasi dan meningkatkan produktivitas, keamanan, dan kenyamanan operasi.

Produktivitas Alat konstruksi

Seleksi alat-alat konstruksi harus memperhitungkan produktivitas yang dinyatakan dalam satuan tertentu, misalnya beberapa unit tanah atau material dapat diangkut per satuan waktu, satuan berat struktur besi atau baja yang didirikan, atau meter kubik adukan beton terangkut per satuan waktu.

Pengeluaran Total Biaya Alat Konstruksi

Pengeluaran biaya amat menentukan dalam pemilihan alat-alat konstruksi, yang terdiri dari biaya pembelian (investasi), biaya operasi dan pemeliharaan. Perhitungan rata-rata biaya investasi per tahun adalah sebagai berikut.

                             S  +  E
I  = (P + B + A )  x _______________________
                                 2

I    =   Biaya investasi per tahun
P    =   pajak
B    =   Bunga
A    =   Asuransi
S    =   Harga pasar awal tahun yang bersangkutan
E    =   Harga pasar akhir tahun yang bersangkutan

Jadi, harus bisa dibedakan antara biaya investasi, operasi, dan pemeliharaan. Bila biaya investasi sudah ditentukan sejak awal maka biaya operasi dan pemeliharaan tergantung kepada kecakapan pengelolaannya.

Umur Peralatan dan penjualan Kembali

Umur peralatan adalah perkiraan berapa lama peralatan masih dapat bekerja produktif. Selain umur peralatan, harga penjualan kembali (resala value) juga harus mendapatkan perhatian yang seksama.  Informasi mengenai faktor-faktor di atas, dapat diperoleh dari data buku katalog atau keterangan dari penjual yang bersangkutan, berdasarkan pengalaman pemakai alat-alat sejenis.

Operasi Alat Konstruksi

Dalam kegiatan operasi, penggunaan alat-alat konstruksi harus diusahakan seoptimal mungkin dengan mengusahakan waktu mengangguran (idle) sekecil-kecilnya. Untuk maksut tersebut, harus disusun jadwal pemakaian bagi masing-masing unit. 

Di samping itu, para operator harus terlatih dalam menangani dan mengenal keterbatasan dan kemampuan alat-alat  konstruksi tersebut. Disiplin operasi harus betul-betul ditegakan, agar tidak terjadi penggunaan peralatan tertentu untuk tugas yang berada diluar desain atau kemampuannya, disamping menyebabkan kerusakan, juga membahayakan keselamatan, misalnya untuk alat angkat seperti  crane. 

Pada saat ini, di pasaran tersedia berbagai macam alat-alat konstruksi yang dirancang khusus untuk tugas-tugas tertentu, dengan kapasitas yang bervariasi, sehingga pemakaian peralatan tersebut harus disesuaikan dan bukan dipaksakan.

Pemeliharaan Alat Konstruksi

Kinerja serta umur produktivitas alat-alat konstruksi amat tergantung dari pemeliharaan. Apabila pada saat ini, dengan bertambah besarnya kapasitas dan kompleksitas peralatan. Bila sustu alat dengan kapasitas besar dalam sehari saja tidak beroperasi, maka akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap kemajuan proyek dan kelangsungan pekerjaan-pekerjaan lain yang terkait. 

Semakin canggih peralatan akan semakin kompleks strukturnya, dan semakin banyak hal-hal yang harus di perhatikan dalam ranggka menjaga kinerja dan produktivitas.

Pemeliharaan dapat terlaksana dengan baik bila  orgnisasi yang bertanggung jawab epenuhnya atas masalah tersebut, termasuk dalam memilih personil, menyusun kebijakan dan prosedur, mendirikan bengkel perawatan, penyusun jadwal pemeliharaan, dan yang tidak kalah pentinggnya adalah membuat system pencatatan operasi dan pemeliharaan yang lengkap dan periodiku. 

Dalam menyusun program pemeliharaan, sebaiknya menghubungi pihak penjual atau manufaktur, karena mereka adalah sumber informasi yang kompeten.

Pemeliharaan Prevantif

Dahulu pemeliharaan di pusatkan kepada perbaikan bila terjadi kerusakan. Sekarang hal tersebut di anggap tidak efektif untuk menjaga produktivitas dan kinerja peralatan. Pendekatan sekarang adalah dengan mengusahakan peralatan selalu dalam kondisi prima dan siap pakai, yaitu yang dilakukan dengan mengadakan pemeliharaan preventif, yang terdiri dari mencari dan membetulkan kerusakan-kerusakan kecil sebelum menjadi terlalu besar, seperti mengecek bearing sebelum longgar, memeriksa radiator akan kemungkinan bocor, dan membuat mesin menjadi panas. 

Umumnya dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan berkala harian atau selang tiga hari. Pemeliharaan ini bertujuan untuk mencari tanda-tanda kemungkinan terjadinya sumber kerusakan, dan membetulkannya dengan segera. Bila dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa perbaikan besar perlu dilakukan, segera disusun jadwal untuk peralatan pengganti dan waktu pelaksanaan perbaikannya.
 

Jasa penjual

Agen penjual (dealer) yang bonafide umumnya melengkapi diri dengan tenaga mekanik yang terlatih, peralatan yang cukup, dan fasilitas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan, serta masa jaminan.  Penjual umumnya memiliki instrument lengkap untuk memeriksa kondisi peralatan dan membandingkannya dengan criteria atau standar yang ditentukan oleh pabrik peralatan. 

Oleh karena itu, sebelum menentukan membangun atau tidaknya fasilitas pemeliharaan sendiri, kontraktor atau pemilik proyek hendaknya mensurvei dan mengkaji total biaya dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti merekrut dan mengkaji tenaga mekanik, membangun bengkel, persediaan suku cadang, overhead, dan masa perbaikan yang mungkin lebih lama dibanding bila dilakukan oleh bengkel penjual.

Persediaan Suku Cadang

Guna mencegah berhentihnya operasi alat-alat konstruksi berkepanjangan, diperlukan persediaan (inventory) suku cadang. Jenis dan volumenya amat dipengaruhi oleh letak lokasi proyek. Di daerah terpencil yang jauh dari agen penjual dan bengkel, maka pertama-tama kontraktor hendaknya mengadakan kontak dengannya untuk mengetahui sejauh mana jasa dan fasilitas yang tersedia. Bila memungkinkan, kontraktor hanya perlu menjaga persediaan suku cadang bagi perbaikan sehari-hari, dan bagian-bagian yang sudah diperkirakan akan dipakai dalam waktu dekat.

Organisasi pengelolaan

Untuk proyek E-MK non-industri, terutama yang memiliki lingkup kerja mempersiapkan lahan cukup besar, seperti proyek membuat landasan pacu pesawat, proyek jalan raya, atau real estate, maka komponen biaya yang berkaitan dengan peralatan berat atau konstruksi dapat mencapai 25-35 persen dari total biaya proyek. Oleh karena itu,  agar pengelolaannya dapat berjalan efektif dan efisien, dibentuk bagian yang khusus bertanggung jawab atas atas operasi dan pemeliharaan. Masing-masing tugas dan tanggung jawab subbagian operasi dan pemeliharaan telah disinggung di atas. 

Ada pun tugas-tugas subbagian administrasi dan perencanaan meliputi identifikasi peralatan, menyusun jadwal operasi, jadwal pemeliharaan, catatan-catatan pemeliharaan dan perbaikan, serta persediaan suku cadang. Seiring dengan itu, bagian dari administrasi harus selalu mengikuti kemajuan teknologi alat-alat konstruksi. Untuk masing-masing peralatan konstruksi, catatan yang dipersiapkan antara lain meliputi:

•    Lama pakai atau bekerja per hari, perminggu dan per bulan:
•    Siap pakai (stand by);
•    Menganggur, karena menungu perbaikan atau perencanaan yang kurang tepat;
•    Perbaikan, lama dan macamnya;
•    Persentase utilisasi;
•    Jam-orang untuk pemeliharaan dan perbaikan;
•    Biaya suku cadang;

Dengan tersedianya catatan-catatan diatas, maka dapat dianalisis biaya operasi dan pemeliharaan, berikut tindakan-tindakan yang harus diambil, baik mengenai perencanaan pemeliharaan ataupun penggantian.

Baca Artikel Lain di Bawah ini :



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Lingkup Kegiatan Desain Konstruksi

Posted by Taufick Max 0 komentar

Lingkup Kegiatan Desain  Konstruksi

 

Lingkup Kegiatan Desain  Konstruksi- Bila pekerjaan survei lokasi telah diselesaikan dan keputusan lain yang diperlukan telah tersedia, seperti gambar, material, dan peralatan, maka titik berat kegiatan proyek akan berangsur-angsur berpindah ke lokasi proyek, yaitu kegiatan konstruksi. 

Berbeda dengan kegiatan desain dan engineering yang berurusan dengan masalah pemilihan alternatif teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi mutu dan ekonomi, maka kegiatan konstruksi bertugas mendirikan atau membangun instalasi dengan cara yang seefisien mungkin, berdasarkan atas segala sesuatu yang telah diputuskan pada tahap desain dan engineering.

Garis besar lingkup kegiatan konstruksi adalah sebagai berikut.

1.Membangun fasilitas sementara, terdiri dari:

•Tempat berteduh untuk buruh dan penyelia;
•Perkantoran pusat pengendalian konstruksi;
•Fasilitas komunikasi, seperti telepon, teleks, dan faksimili; serta

2.Mempersiapkan lahan (site preparation) untuk lokasi instalasi dan perumahan permanen, terdiri dari:

•Membuat pondasi ;
•Membuat saluran parti dan memasang pipa bawah tanah; dan
•Membuat area penampungan (laydown area) bagi material dan peralatan.

3.Mendirikan fasilitas pabrikasi (bengkel) bagi material dan peralatan yang hendak dibuat atau di rakit di lapangan, seperti tiang penyangga, nozle dan spool piece pipe, dan lain-lain.

4.Mendirikan bangunan dan pekerjaan civil lainnya.

•Bangunan dapat terdiri dari perkantoran, ruang kontrol operasi dan produksi, gudang, gardu listrik, dan bangunan lainnya di dalam areah pabrik.
•Bangunan untuk kompleks perumahan pegawai, termasuk sarana rekreasi  dan lain-lain.
•Mendirikan struktur penyangga dari besi atau beton, untuk penyangga pipa, peralatan, dan platform.

5.Memasang bermacam-macam peralatan, seperti pompa, kompresor, drum, tower, penukar panas, generator, dan lain-lain, di atas pondasi yang telah selesai disiapkan.

6.Memasang instrument dan instalasi listrik untuk kebutuhan operasi peralatan dan penerangan.

7.Mengerjakan perlengkapan keselamatan dan anti kebakaran.

8.Mendirikan tangki penyimpanan umpan (feed stock) dan penampung produksi (untuk proyek produk cair dan gas).

9.Membuat pelabuhan (bila diperlukan), yang terdiri dari pekerjaan pengerukan dan pembangunan dermaga.

10.Memasang isolasi dan pengecatan.
11.Melakukan testing, prakomisi, uji coba, dan star-up.
Baca Artikel Lain di Bawah ini :


Baca Selengkapnya ....
Share on :

Sejarah Alat Transportasi Kuno Modern

Posted by Taufick Max 1 komentar

Sejarah Alat Transportasi Kuno dan Modern

Alat Transportasi Modern, Sepeda Modern, Sepeda Kuno

Sejarah Alat Transportasi Kuno dan Modern- Seiring berkembangnya kecanggihan Teknologi maka di Bidang Transportasipun mengalami Perkembangan. Dari Sistem Transportasi Tradisional berubah menjadi Transportasi Modern. Semakin hari Sistem Transportasi selalu disempurnakan, meski demikian Permasalahan yang berhubungan dengan Transportasi selalu ada.

Pengertian Alat Transportasi

Menurut Defenisi dalam Situs Wikipedia Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Jika pada zaman dahulu Alat Transportasi Kuno masih menggunakan Tenaga Manusia atau digerakan oleh manusia, namun di zaman sekarang sebuah Alat Transportasi Modern digerakan Oleh Mesin.

Penemu Alat Transportasi

Penemu Alat Transportasi Sepeda

Alat Transportasi beroda dua tersebut pertama kalinya sudah ada pada awal ke 18 di Perancis dengan nama Velocipede. konstruksinya masih sederhana karena menggunakan Kayu. Kemuadian disempurnakanlah oleh Baron Karls Drais Von Sauerbronn Asal Jerman.

Pada Tahun 1839 Kirkpatrick MacMillan seorang Pria Skotlandia menyempurnakan lagi menjadi sepedamodern, dan Pada tahun 1855 Ernest Michaux Asal Perancis melengkapinya dengan pemberat Engkol. dan Baru pada tahun 1865 Pierre Lalle Ment asal perancis melengkapinya dengan Velg yang memperkuat konstruksi roda.

Penemu Alat Transportasi Mobil

Pada Tahun 1672 Ferdinand Verbies menciptakan kendaraan yang bekerja dengan Uap. kendaraan ini didesain hanya untuk mainan yang berukuran 65 Cm. Pada Tahun 1752 Leonty Shamshurenkov menciptakan Konstruksi kendaraan yang mirip kereta salju itu dengan tenaga manusia.

Kemudia Nicolas Joseph pada tahun 1769 berhasil mencoba kendaraan dengan tenaga uap. dan selanjutnya Kendaraan Mobil dikembangkan di Britania oleh Frederic Willian pada tahun 1896 dengan menggunakan Tenaga Bensin dan memakai Rem Cakram.

Alat Transportasi Kuno

Alat Transportasi Kuno Adalah alat transportasi yang masih tradisional yang sebagian besar penggearaknya menggunakan tenaga Manusia dan Hewan. Contoh Alat Transportasi Kuno yaitu Gerobak, Becak, Bendi. Dll

Alat Transportasi Masa Kini

Jika pada zaman Dahulu semua Alat Transportasi menggunakan Tenaga Manusia dan hewan maka Saat ini semua Alat Transportasi menggunakan Tenaga Mesin. Baik Alat Transportasi di Darat, Laut , dan Udara.


Gambar Alat Transportasi Modern









Gambar Alat Transportasi Masa Kuno














Baca Selengkapnya ....
Share on :

Pelaksanaan Desain Engineering

Posted by Taufick Max 0 komentar

Pelaksanaan Desain Engineering

Pelaksanaan Desain Engineering- Setelah parameter Desain-Engineering ditetapkan, langkah berikutnya adalah pelaksanaan desain-engineering fasilitas produksi atau produk yang hendak dibangun. Kegiatan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti uraian dibawah ini.

Engineering Proses dan Mekanikal

Kegiatan ini terdiri dari pembuatan perincian spesifikasi derajat kemurnian produk dan bahan mentah sesuai permintaan atau pengamatan pasar. Desain proses merupakan pekerjaan hulu yang memberikan masukan penting pada kegiatan desain-engineering berikutnya. Adapun perincian desain proses dan mekanikal adalah sebagai berikut.

•Merancang diagram arus proses, menghitung neraca panas dan neraca bahan.
•Menghitung keperluan utilitas, seperti tenaga listrik, uap air, dan air pendingin.
•Membuat spesifikasi peralatan yang akan digunakan, dalam hubungannya dengan panas, tekanan, aliran, dan ketahanan terhadap korosi dan bahan-bahan kimia, serta spesifikasi-spesifikasi lainnya yang berhubungan dengan aspek mekanikal.
•Merancang diagram pipa dan instrument (P&-ID), diagram listrik untuk proses, utilitas, dan merancag denah (layout) unit-unit di dalam instilasi.
• Menyusun spesifikasi yang berkaitan dengan batasan-batasan yang diberlakukan, dalam rangka menjaga kelestarian lingkup hidup.

Diagram Proses dan Instrumen

Diagram arus proses (process flow diagram) menjelaskan berbagai aliran material dan panas pada proses produksi instalasi yang dimaksudkan. Diagram ini menjadi masukan utama untuk menyusun rancangan diagram pipa dan instrument (P&-ID), yang menggambarkan posisi, letak, dan hubungan antara pipa, kerangan (valve), instrument, dan peralatan. 

Dokumen P&-ID selanjutnya akan menjadi dasar bagi disiplin lain untuk menentukan denah (layout) tempat kedudukan peralatan, membuat gambar (engineering- drawing), dan model. Pekerjaan penting lain adalah mempersiapkan lembaran data peralatan (LDP), yaitu lembaran yang memuat daftar peralatan yang hendak dipesan ke pabrik atau manufaktur, seperti pompa, kompresor, alat penukar panas, kolom, dan lain-lain. 

Pada LDP dicantumkan perincian nama peralatan, kondisi operasi, dan jenis material yang diinginkan (carbon steel stainless steel, dan lain-lain). Adapun kelompok desain-engineering mekanikal bertanggung jawab atas hal-hal berikut.

•Menambahkan syarat-syarat atau spesifikasi dalam aspek mekanikal pada LDP, seperti ukuran tebal pipa, bejana, alat penukar panas, dan lain-lain.
•Koordinasi dengan disiplin engineering lain dalam rangka membuat material takeoff dan paket MR, untuk penyusunan anggaran biaya proyek dan pemesanan barang.
•Mengkaji dan menyetujui gambar vendor drawing, yaitu gambar engineering dari perusahaan manufaktur sebelum pesanan peralatan mulai dipabrikasi.
Disamping itu, disiplin ini juga bertugas membuat spesifikasi peralatan mekanisme, seperti pengatur suhu ruangan, handing material, dan alat-alat pencegah bahaya kebekaran.

Civil dan Arsitek

Bagian civil bertugas mempersiapkan desain-engineering penyiapan lahan lokasi proyek, yang terdiri dari merancang pekerjaan-pekerjaan clearing and grubbing, jalan masuk, civil. Untuk proyek yang kandungan pekerjaan civil-nya cukup besar, seperti membangun lapangan terbang, bendungan, irigasi, jembatan, jalan raya, dan lain-lain, maka disamping pekerjaan tersebut di atas, disiplin engineering civil berperan memimpin, dalam arti mempersiapkan pekerjaan hulu, membuat spesifikasi dan menentukan denah, yang selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk desain disiplin-disiplin berikutnya. 

Demikian juga halnya pada proyek yang memiliki kandungan arsitektur cukup tinggi, maka kelompok arsitek memimpin kegiatan merancang, yang meliputi antara lain desain gedung, dengan masukan hasil studi penggunaan tata ruang dan keindahan, interior, eksterior, lantai, dinding, dan atap.

Pipa dan Instrumen

Untuk proyek industry yang memproses material cair atau gas, seperti refinery, petrokimia, kilang-kilang LNG, LPG, dan sebagainya, maka pekerjaan desain pipa mempunyai porsi jam-orang yang besar ( 33 persen), dan dari segi jadwal merupakan jalur kritis proyek. Pekerjaan ini meliputi desain, membuat spesifikasi, dan mempersiapkan paket pembelian material seluruh sistem pipa proyek. Setelah dena peralatan ditentukan, Disiplin engineering pipa (DEP) dan Disiplin engineering instrument (DEI) melanjutkan dengan merancang diagram pipa dan instrument (P&ID), menetukan elevasi peralatan serta sistem pipa yang menghubungkannya. 

Langkah akhir DEP adalah membuat gambar isometrik, yaitu gambar desain terinci system pipa, yang antara lain dipakai untuk petunjuk pabrikasi pipa dan membuat model.  Adapun DEI bertanggung jawab atas system pengendalian (control) dan otomatisasi atau komputerisasi instalasi ataupun produk yang dihasilkan proyek. 

Peralatan yang berkaitan erat dengan sistem tersebut antara lain adalah pengukuran dan pengendalian panas, aliran, tekanan, serta jalinannya dengan pusat pengendalian. DEI membubuhkan tanda-tanda letak serta fungsi peralatan tersebut pada gambar P&ID. 

Pada proyek industri, lingkup kerja DEI termasuk menyiapkan sistem pengendalian di pusat pengendalian (control room), yang meliputi menentukan denah, panel dan konsol, serta hubungannya dengan unit-unit proses yang bersangkutan. Lainnya, DEI membantu mempersiapkan paket pembelian, khususnya paket pembelian peralatan instrument dengan menyusun spesifikasi, kriteria, dan kuantitas yang diperlukan.  Menjelang tahap akhir proyek, terutama pada praoperasi dan start-up, DEI melakukan kalibrasi serta memeriksa dan menyesuaikan alat-alat instrument agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Listrik

Disiplin Engineering Listrik (DEL) bertugas mempelajari dan merancang sistem kelistrikan, mulai dari sumber tenaga listrik proyek, jaringan distribusi, switch gear atau gardus listrik atau trafo, sampai pada titik-titik pemakaia, seperti motor listrik penggerak, lampu tanda-tanda pada instrument, dan alat pemanas listrik. 

Juga menyiapkan angka-angka perhitungan keperluan tenaga listrik instalasi pada saat telah beroperasi. Merancang system kelistrikan ini antara lain meliputi, mempelajari beban (load) yang diperlukan, diagram single-line, relay, interlock, kondunit, serta merancang penerangan seluruh instalasi. Dalam membantu bidang pembelian, DEL menyusun spesifikasi, kriteria, dan kuantitas peralatan listrik yang akan dimasukkan dalam paket MR.

Denah Instalasi

Bila penentuan filosofi desain mempunyai dampak yang besar terhadap biaya, maka salah satu titik kunci yang mempengaruhi kelancaran pekerjaan  desain-engineering adalah penentuan denah instalasi. Sebelum denah ini dibuat, belum dapat ditentukan letak dan kedudukan peralatan atau unit-unit yang merupakan bagian dari instalasi, seperti reaktor, kolom, penukar panas, pendingin, generator, kompresor, dapur, pusat pengendalian, (control room), dan lain-lain. Oleh karena itu, perancang pekerjaan berikutnya, seperti perancang pondasi, pipa penghubung, pipa penyangga, selokan pembuang, jalan-jalan untuk angkutan, dan pemeliharaan di dalam instalasi dapat tertahan.  

Dari keterangan di atas terlihat bahwa dalam kegiatan desain-engineering, terdapat pola hubungan yang tertentu, baik hubungannya dengan penggunaan jam-orang ataupun urutan pelaksanaan pekerjaan. Dengan memahami masalah-masalah tersebut, maka dapat dipersiapkan perencanaan yang sebaik-baiknya, kapan dan berapalama teknisi diperlukan untuk masing-masing disiplin, sehingga dicapai pemakaian sumber daya yang efisien dalam kegiatan desain dan engineering.

Kriteria dan Spesifikasi

Dokumen yang memuat kriteria dan spesifikasi desain-engineering, selain penting bagi kegiatan perancang juga penting bagi “penjaminan mutu”. Kriteria desain dan engineering memuat keterangan terinci perihal maksud dan fungsi setiap peralatan yang hendak dipesan ke pabrik maupun unit instalasi yang hendak dibangun. 

Di samping itu, terdapat juga data yang memuat keterangan teknis tentang segala sesuatu yang mempengaruhi, atau harus diperhitungkan dalam perancangan peralatan dan unit instalasi, antara lain kondisi lokasi proyek (keadaan tanah, iklim, transportasi, dan komunikasi), metode konstruksi, kebijakan penyediaan suku cadangan, pemeliharaan, dan lain-lain. Berdasarkan kriteria dan data ini, disusunlah spesifikasi dan metode konstruksi untuk instalasi atau unit produksi yang hendak dibangun.

Gambar Engineering

Dikenal beberapa macam gambar (drawing) sebagai produk kegiatan desain dan Engineering. Misalnya, ganbar sementara untuk bahan pengkajian dsn komentar, gambar konstruksi yang dipakai pelaksanaan konstruksi, dan asbuilt drawing, yaitu gambar akhir yang sesuai dengan keadaan sesungguhnya dari unit atau instalasi yang sudah dibangun. 

Disamping itu, terdapat vonder drawaing, yaitu gambar yang dipersiapkan oleh pabrik (manufacturer) penjualan atau suatu peralatan yang dipesan oleh proyek. Gambar gambar tersebut berfungsi memberikan ilustrasi aspek aspek teknis suatu rancangan, dengan menunjukan denah letak peralatan atau unit unit di dalam instalasi dan hubungan antara satu dengan yang lain. 

Gambar gambar ini juga menunjukan ukuran, dimensi, elevasi, dan jenis material yang akan digunakan. Dengan menggunakan gambar engineering yang lengkap dan jelas, perancang dapat berkomunikasi dengan pihak pihak lain yang berkepentingan tentang spesifikasi peralatan atau metode konstruksi yang diinginkan. Kecuali bagi proyek yang bersifat duplikasi, gambar engineering perlu dipersiapkan secara khusus untuk masing masing proyek yang hendak dibangun.

Spesifikasi

Spesifikasi memberikan petunjuk tentang persyaratan kualitas instalasi yang hendak dibangun. Spesifikasi ini berupa penjelasan tertulis, yang meliputi pengunaan material dan metode kerja yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan proyek, agar  dicapai standar  mutu yang dikehendaki. Spesifikasi dan gambar berfungsi saling melengkapi, dalam arti penjelasan penjelasan yang tidak praktis bila diutarakan dalam bentuk gambar, akan tertulis dalam halaman halaman yang memuat penjelasan spesifikasi; misalnya mutu material yang dikehendaki, cara cara konstruksi, prosedur uji coba, dan lain sebagainya. 

Adanya spesifikasi dan gambar yang cukup lengkap dan jelas dalam suatu paket dokumen lelang, akan merupakan bantuan yang besar bagi peserta lelang untuk menghitung angka penawaran dan nantinya menjadi petunjuk pokok dalam kegiatan desain dan engineering, pembelian material dan peralatan konstruksi bagi kontraktor utama.

Macam Spesifikasi

Dalam hubungannya dengan kegiatan proyek,K, A Tenah dan J. M. guevera (1985) mengolongkan spesifikasi menjadi system hasil dan metode.

•System Hasil  Sistem hasil disebut juga spesifikasi kinerja (performance spesification). Pada intinya, spesifikasi kinerja ini hanya mencantumkan hasil akhir yang dapat memenuhi syarat sesuai dengan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, di dalam spesifikasi perlu dicantumkan prosedur pengujian untuk memenuhi criteria tersebut. dengan pendekatan ini, kontraktor mempunyai kebebasan untuk mengunakan cara cara yang dianggap paling efesien baginya dalam mencapai syarat yang telah di ditentukan. Sedangkan pemilik diyakinkan dengan adanya uji coba berikut masa jaminan dalam periode tertentu.

•System Metode  Sistem ini memberiakn rincian material yang digunakan dan prosedur yang harus diikuti untuk melaksanakan suatu pekerjaan proyek, untuk memenuhi mutu yang telah ditentukan. Pendekatan ini dilakukan bila hasil uji coba tidak dapat mengungkapkan kualitas secarah keseluruhan, misalnya pemasangan isolasi pada pipa atau alat penukar panas dari instalasi industry petrokimia. Spesifikasi dan metode konstruksi perlu di tulis sedemikian rupa sehingga selain jelas dan tepat, juga harus mudah ditangkap dan dimengerti oleh para pelaksana proyek seperti juru pembelian, pelaksana dilapangan, yaitu tukang las, tukang pipa, juru gambar, dan para pengawas.

Maket atau Model

Salah satu saran yang ampuh untuk mendapatkan komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam desain-engineering dan konstruksi adalah model atau maket instalasi. Model merupakan unit instalasi berskala kecil. Dengan model dapat dilihat gambaran tiga dimensi unit instalasi yang hendak dibangun sehinnga memberikan kemudahan dalam hal-hal:

•Menyusun rancangan terinci, misalnya arah dan letak pipah, jarak antara peralatan, penentuan tangga, plafon, fasilitas pemeliharaan, dan lain-lain;
•Memberikan petunjuk kepada pelaksana kegiatan konstruksi tentang langkah yang akan dikerjakan;
•Peragaan kepada calon-calon operator yang akan melaksanakan operasi instalasi dan pemeliharaan.

Pembuatan model dilakukan bersamaan dengan pekerjaan desain-engineering karena kedua pekerjaan ini saling member masukan yang diperlukan.

Baca Artikel Lain di Bawah ini :


Baca Selengkapnya ....
Share on :

Desain Engineering

Posted by Taufick Max 0 komentar

Desain Engineering

Desain Engineering Kontruksi
Desain Engineering- Perihal metodologi engineering system, yang berkaitan dengan proses mewujudkan gagasan menjadi kenyataan, maka desain-engineering dilaksanakan dengan wawasan totalitas system, yaitu dengan memperhatikan efektifitas system menyeluruh sampai pada operasi dan pemeliharaan. Seperti halnya menyusun perkiraan biaya dan jadwal, desain-engineering dilakukan dengan pendekatan setahap demi setahap,mulai dari desain konseptual, pendahuluan, dan terinci.

Desain Konseptual

Desain ini dilakukan pada waktu studi kelayakan, merumuskan garis besar dasar perkiraan teknis mengenai system yang akan diwujudkan, dan mengemukakan sebagai alternative, yang di dasarkan, untuk di kaji lebih lanjut mengenai aspek ekonomi, pemasaran, dan lain lain.

Desain Pendahuluan

Pada tahap ini, diletakan dasar dasar pokok desain-engineering, dalam arti segala sifat atau fungsi pokok dari produk atau instalasi hasil proyek sudah ahrus dijabarkan, termasuk menentukan proses yang akan mengatur masukan material dan energy untuk konversi menjadi produk yang diinginkan. Tugas penting dari desain pendahuluan adalah memberikan besaran kuantitatif dari berbagai parameter, sehingga dapat dipakai untuk menyusun perkiraan biaya dengan akurasi yang lebih baik. Pada tahap ini, dilakukan pengecekan ulang dan mengkomfirmasikan masalah fungsi, kualitas, keserasian, dan keindahan dari segi arsitektur dan persyaratan pelestarian lingkungan.

Desain Terinci

 

Di sini desain mencapai taraf penyusunan deskripsi lengkap dari aspek engineering perihal produk yang hendak di buat, atau intalasi yang hendak di bangun. Jadi, spesifikasi dan criteria telah diperhatikan sepenuhnya, seperti dimensi, tat letak, bentuk, elevasi, toleransi, kualitas material, termasuk proses pabrikasi atau instalasi.

Faktor yang Menentukan Desain-Engineering

Kegiatan desain-engineering proyek, dari konseptual sampai terinci, mempunyai satu tujuan pokok, yaitu memenuhi fungsi produk atau instalasi. Kegiatan ini melibatkan berbagai parameter dan pertimbangan. Tentu saja gambaran keseluruhan dari segi ekonomi dan finansial akan menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. Pengembangan dan penentuan kinerja yang memperlihatkan sejauh mana fungsi yang direncanakan telah dipenuhi. Proses ini merupakan masalah kritis pada kegiatan desain-engineering. Dalam rangka memenuhi fungsi ini, aspek aspek yang lebih luas ahrus ikut diperhatikan, seperti reliability, constructability, dan maintainability.

Dalam pada itu, faktor faktor seperti keharusan menerapkan prinsip prinsip engineering, aman (safe) untuk dioperasikan, dan dapat diterima dari segi kelestarian lingkungan, akhirnya akan berpengaruh terhadap besar kecilnya biaya proyek atau investasi. Prinsip engineering di sini hubungan dengan pemenuhan standar tertentu, seperti ASTM, dan ASME yang secarah luas telah diterima di kalangan industry. Dengan demikian, standar standar tersebut dipakai sebagai standar minimal yang harus dicapai. Adapun sala satu standar untuk safety dan kesehatan adalah OSHA (Occupational Safety Health Administration).

Lingkup Desain-Engineering

Sebagian dari lingkup desain engineering, yaitu desain-engineering konseptual dan pendahuluan telah dimulai pada studi kelayakan dan tahap PP/Definisi. Dalam implementasi fisik pekerjaan tersebut dilanjutkan sampai menghasilkan produk berupa spesifikasi, kriteria, serta gambar-gambar untuk pembelian atau pemesanan, manufaktur peralatan, dan gambar cetak-biru konstruksi. Kegiatan ini disebut desain-engineering terinci (detailet design-engineering). Produk yang dihasilkan bertumpu pada keseimbangan dalam memadukan antara prinsip desain-engineering dengan faktor-faktor ekonomi. Hal ini berarti perancang harus selalu mengikuti perkembangan analisis ekonomi, agar mengetahui sejauh mana kiranya kendala aspek ekonomi mempengaruhi spesifikasi dan kriteria yang hendak disusun.

Kegiatan desain-engineering terinci dikerjakan di kator pusat proyek, meliputi:


•Meletakkan dasar criteria desain-engineering ;
•Mengumulkan data teknis yang diperlukan untuk desain, yang sering kali harus berdasarkan survei lapangan untuk mendukungnya;
•Membuat spesifikasi material;
•Membut desain proses dan desain-engineering mekanikal;
•Merancang gambar-gambar untuk pabrikasi struktur instalasi, pabrikasi pipa, pekerjaan pondasi, dan lain-lain;
•Membuat spesifikasi dan kriteria peralatan, misalnya turbin penggerak, generator listrik, ketel uap, kompresor, dan lain-lain. Spesifikasi ini diperlukan untuk memesan peralatan tersebut kepada perusahaan manufaktur; serta
•Mengevaluasi dan menyetujui usulan desain dan gambar yang diajukan oleh perusahaan manufaktur;
•Menyiapkan pengajuan keperluan material (MR) untuk kegiatan pembelian;
•Membuat model bagi instalasi yang hendak dibangun dengan skala yang ditentukan;
•Membuat perkiraan biaya proyek;
•Membuat jadwal pelaksanaan proyek; dan
•Menyusun program jaminan mutu.

Produk-produk pekerjaan di atas dituangkan dalam bentuk catatan, gambar, dan model, yang akan menjadi salah satu patokan dalam kegiatan pembelian, manufaktur, dan konstruksi. Di sini dipakai asumsi bahwa kegiatan manufaktur peralatan diserahkan dan dipesan kepabrik yang telah biayasa mengerjakan pembuatan peralatan serupa.

Filosofi Desain

Filosofi desain bermaksud merumuskan batasan-batasan pada desain-engineering, setalah mempertimbangkan aspek ekonomi dan kebijakan pihak pemilik proyek. Terdapat hubungan yang erat antara biaya dengan proyek dengan filosofi desain. Pada umumnya, usaha meningkatkan faktor-faktor efisiensi, keandalan, reliabilitasi, dan fleksibilitasi operasi dan pemeliharaan produk atau instalasi, akan meningkatkan biaya proyek.

Mengingat besarnya pengaruh filosofi desain terhadap biaya proyek dan kelangsungan pekerjaan-pekerjaan desain-engineering, maka dalam hal ini, pemilik harus sudah memutuskan alternative mana yang akan dipilih pada awal tahap PP/Definisi.

Sumber : Manajemen Proyek Imam Soeharto

Baca Artikel Lain di Bawah ini :

Baca Selengkapnya ....
Share on :

Definisi dan Contoh WBS SRK Proyek

Posted by Taufick Max 1 komentar

Definisi dan Contoh WBS/SRK Proyek

Contoh Wbs Proyek Konstruksi
Definisi dan Contoh WBS/SRK Proyek- Lingkup proyek didentifikasikan sebagai perwujudan dari apa yang diinginkan oleh proyek. Misalnya, untuk suatu proyek E-MK berupa pendirian kilang minyak, maka lingkup proyeknya dapat terdiri terdiri dari:

•Unit pemurnian;
•Unit proses pengelolaan utama;
•Unit pemurnian produk;
•Unit utility dan penunjang;
•Unit fasilitas dermaga dan tangki;
•Perkantoran, control room, perumahan, dan bangunan sipil lainnya.


Semua butir di atas dijabarkan lebih lanjut dan lebih terinci, misalnya berapa besar kapasitas produksi unit pengelolahan, produk, luas perkantoran, jumlah unit perumahan pegawai dan lain lain. Dengan demikian, diperoleh perencanaan yang definitive mengenai lingkup proyek.

Setelah berhasil mendefinisikan lingkup proyek secara utuh, langkah selanjutnya adalah memecah lingkup proyek menjadi komponen komponen dan menyusunnya kembali bagi tujuan  pengelolaan berikutnya.

Memecah lingkup proyek dan menyusun kembali komponen komponennya dengan mengikuti srtuktur hierarki tertentu dikenal sebagai membentuk SRK atau struktur Rincian Lingkup Kerja  (work breakdown structure).

Di samping sebagai kerangka pembagian kerja untuk melaksanakan proyek, SRK juga merupakan sarana untuk perencanaan, pemantauan, dan pengendalian. Dari gambaran proyek secara utuh tersebut  kemudian akan terjadi pembagian  menurut hierarki dan semakin lama terinci dengan lingkup yang juga mengencil.

Sedangkan komplesitasnya semakin berkurang sampai akhirnya dianggap cukup terinci tetapi masih dapat dikelolah (manageable). Jadi, suatu paket kerja sebagai SRK terkecil harus memenuhi sifat sifat berikut.

•Dapat dikelolah sebagai satuan unit kerja.
•Dapat diberi kode identifikasi, seperti kode akuntasi biaya.
•Dapat direncanakan jadwal perencanaan anggarannya.
•Mudah diukur kemajuan pelaksanaan serta pemakaian biayanya.
•Dapat dikaji kualitas kerja dan hasil akhirnya.
•Bila diintegritaskan dengan SRK yang lain, akan menjadi lingkup proyek secara keseluruhan.

Dari segi pengalaman terhadap resiko, dengan membagi lingkup proyek menjadi sejumlah paket kaket kerja, berarti memungkinkan mengisolasi risiko di dalam SRK yang bersangkutan. Paket kerja dari SRK di atas setelah diberi kode akuntansi, alokasi anggaran biaya, indikasi jadwal pelaksanaan, dan criteria standar mutu yang harys dipenuhi akan merupakan “proyek mini” yang dapat diserahkan kepada bidang fungsional atau organisasi alin, seperti subkontraktor, untuk dikerjakan.

Penyusunaa SRK umumnya dilakukan dengan pendekatan top-down, dengan maksud mencegah adanya bagian bagian yang tertinggal dan kemungkinan pengaturan langsung agar komponen komponen terwebut tetap berorientasi ke tujuan proyek. Satu hal yang perlu diingat bahwa menyusun SRK, meskipun dimulai sejak awal proyek, belum tentu tidak mengalami perubahan. Penyempurnaannya harus selalu dilakukan sejalan dengan kemajuan proyek, sesuai dengan informasi yang semakin banyak dan lebih akurat.

Macam Struktur

Struktur yang dipilih dapat didasarkan kepada fasilitas yang hendak dibangun, penjabaran lingkup kontrak, system (produk), atau kombinasi di antaranya. Sebagai contoh, SRK proyek E-MK berdasarkan fasilitas yang hendak dibangun dengan tingkatan sebagai berikut.

Tingkat 1      : lingkup proyek seutuhnya
Tingkat 2      : Unit utama seutuhnya
Tingkat 3      : Diuraikan menjadi subunit
Tingkat 4      : Bagian bagian dari subunit. Dapat pula di bagikan berdasarkan lokasi (area)
Tingkat 5      : Menurut kode akuntansi, macam pekerjaan sampai ke pake kerja.

Lazimnya, pembagian pada beberapa tingkat di atas, misalnya sebanyak 4 tingkat, didasarkan atas besar kecilnya ukuran lingkup kerja dan komplesitas proyek yang spesifik, sedangkan pembagian pada tingkat tingkat di bawahnya didasarkan pada kode akuntansi yang dimiliki oleh pelaksana atau kontraktor yang mengerjakannya.

Dokumen

Menyusun paket kerja /SRK perlu diikuti dengan membuat dokumen tertulis yang disebut surat lampiran pekerjaan yang menjelaskan rincian pekerjaan masing masing unsure paket kerja dalam hal jenis pekerjaan, batasan lingup kegiatan, keperluan sumber daya, perkiraan jadwal dan garis besar mutu yang diinginkan. Pada kontrak EPK jenis lump- sum,definisi SRK cukup jelas, baik deskripsi maupun batasan batasannya. Bila terjadi perubahan, penambahan, atau pengurangan lingkup kerja, maka dokumen yang bersangkutan juga harus disesuaikan, misalnya dengan mengadakan change order.

Motivasi

Mengelolah paket kerja atau SRK berarti mengerjakan berbagai macam kegiatan yang layaknya diperlukan sebuah proyek, termasuk mendeligasikan wewenang dan tangung jawab pekerjaan kepada pimpinan yang diserahi paket kerja. Tindakan ini dapat pula dipandang sebagai sarana motifasi bagi pimpinan dan anggota kelompok atau unsure pengelolah paket kerja, sebagai tantangan untuk menunjukan prestasinya pada lingkup tugasnya masing masing. 

Jadi, dipandang dari penyelenggaran proyek, pembentukan SRK dan pemberian kode identifikasi memungkinkan pengelolah melihat lingkup proyek, baik sebagai kesatuan komponen komponenya, serta memungkinkan pengelola melihat hubungannya satu dengan yang lain. Atas dasar inilah kemudian alokasi sumber daya, system pelaporan, pemantauan, pengendalian, serta fungsi manajemen proyek yang lain diterapkan.

Pengendalian Perubahan Lingkup

Control perubahan lingkup meliputi (a) menganalisis faktor faktor yang menciptakan perubahan lingkup, dan (b) mengelolah perubahan perubahan yang diperlukan. Control lingkup haruslah diintregritaskan dengan proses pengendalian lain, seperti control waktu, control biaya, control mutu, dan lain lain.

Verifikasi Lingkup

Verifikasi lingkup merumuskan penerimaan lingkup proyek oleh pemilik proyek. Ini memerlukan kajian produk produk pekerjaan dan hasil hasil untuk memastikan bahwa semua telah diselesaikan secarah benar dan memuaskan.

Manajemen Konfigurasi

Manajemen konfigurasi dikembangkan dalam proyek untuk mengendalikan perubahan perubahan yang mungkin terjadi dari versi atau ketepan awal. Manajemen konfigurasi ini khususnya dilakukan pada proyek proyek pembangunan atau manufaktur , dimana beberapa prototype sedang di produksi dan dikembangkan. Pengendalian konfigurasi hendaknya tetap mengikuti jejak desain konfigurasi dari masing masing prototype. Dengan perubahan yang cepat dalam teknologi dan komunikasi, manajemen konfigurasi telah menjadi suatu keharusan.

Manajemen konfigurasi bermaksud mengendalikan spesifikasi struktur perincian  produk dan fasilitas yang sedang di laksanakan oleh sebuah proyek. Konfigurasi dapat mengendalikan bermacam macam bentuk rencana desain, ruang dan system oerangkat lunak, program pelatihan struktur organisasi, dan lain lain. Proses ini harus memperhatikan syarat material dam perincian produk proyek yeng bersangkutan.

Secara garis besar, manajemen konfigurasi dapat dikatakan sebagai bagian dari pengelolaan lingkup proyek, yaitu.

•Sebuah dokumentasi rancangan induk mutakhir yang di pertahankan.
•Tidak ada perubahan yang disahkan kecuali jika dampak pada jadwal dan biaya disetujui oleh yang berwenang.
•Perubahan perubahan yang saling berhubungan disinkronisasikan.

Identifikasi dan Dokumentasi Konfigurasi

Identifikasi konfigurasi adalah proses pemecahaya sebuah system kedalam bagian komponen atau butir konfigurasi. Setiap butir dapat didokumentasikan secarah individual dan ditempatkan di bawah pengendalian perubahan.

Dalam bentuknya yang paling sederhana, identifikasi konfigurasi mencakup penempatan semua butir konfigurasi yang diperlukan untuk melihat agar fasilitas hasil proyek tidak ada yang dilupakan dan kemudian mewujudkan informasi untuk tetap mengikuti jejak butir butir tersebut sepanjang siklus proyek. Kebanyakan system dapat dirinci dengan memakai WBS.
Apabila system itu telah dirinci sampai tingkat paling rendah, maka resultan butir konfigurasi membentuk proyek secarah keseluruhan. Semua revisi ditelusuri dan di control sehingga susunan butir yang direncanakan dilaksanakan semestinya.

Prosedur pengendalian manajemen konfigurasi terdiri dari pengelolaan dari waktu ke waktu tentang kemungkinan adanya perubahan konfigurasiselama siklus proyek. Ini dilakukan melalui proses tinjauan formal yang dilakukan pada akhir setiap tingkat.

Pada kesimpulan taraf ini, ketentuan syarat syarat produk dilaporkan sebagai bagian dari Laporan Definisi Proyek untuk dievaluasi dan dilanjutkan sampai Taraf Desain dan Engineering. Demikian pula pada akhir Definisi proyek. Begitu identifikasi konfigurasi dilaksanakan dengan baik, ia berkembang dari dokumentasi kedalam bentuk yang dapat diwujudkan sesuai perencanaan.


Baca Artikel Lain di Bawah ini :
  1. Cara Membuat Proposal Proyek 2
  2. Paket Lelang Pengadaan Barang dan Jasa
  3. Strategi Mempercepat Jadwal Proyek Konstruksi - New !!
  4. Bentuk Kontrak Konsultan Manajemen Proyek - New !!
  5. Bidang Keahlian Konsultan Manajemen Proyek
  6. Tujuan dan Fungsi Peserta Proyek
  7. Peranan dan Tugas Pemilik Proyek
  8. Jenis Pekerjaan Konsultan Manajemen Konstruksi - New !!
  9. Kemampuan Manajemen Dalam Perusahan
  10. Klarifikasi Akhir Tanda Tangan Kontrak - New !!
  11. Konsultan Manajeman Proyek - New !!
  12. Produk Kerja antara dan Akhir
  13. Defenisi Lingkup Proyek Manajemen
  14. Paket Leleng Tender Konsultan Proyek - New !!
  15. Panitia Tender Proyek Konstruksi
  16. Hubungan Antara Owner dan Kontraktor
  17. Rancangan Kontrak Proyek Konstruksi
  18. Rencana Anggaran Biaya dan Program Kerja
  19. Hubungan Antara Owner, Kontraktor, dan Konsultan 
  20. Peranan Pemilik dan Jenis Kontrak


Baca Selengkapnya ....
Share on :

Materi Populer