Siklus Sistem Proses Engineering Proyek

Posted by Taufick Max Senin, 23 Desember 2013 0 komentar

Siklus Sistem dan Proses Engineering Proyek

Sistem Manajemen Proyek
Salam Civil Engineers. Berjumpa lagi melalui Blog Kampus-Sipil.com ini dalam rangka membahas materi-materi berhubungan dengan Ilmu Teknik Sipil. sebelumnya telah kita bahas tentang Aplikasi Konsep Sistem dana Proyek  dan Unsur dan sifat Sistem dalam proyek oada kesempatan ini kita akan membahas kelanjuan dari kedua materi tersebut Yakni Siklus Sistem dan Proses engineering Proyek.

Seperti halnya dengan sistem itu sendiri, Engineering sistem mempunyai siklus yang ditandai oleh seluruh spektrum aktivitas yang terdiri dari beberapa tahap . Tahap-tahap tersebut diawali identifikasi kebutuhan, dilanjutkan dengan desain dan pengembangan, Aspek Engineering pada Konstruksi, produksi, operasi dan pemeliharaan. Pada akhirnya sistem berhenti tak berguna lagi.

Aktivitas masing-masing tahap memiliki hubungan tertentu dengan tahap sebelum dan sesudahnya. Oleh karena itu, amatlah penting untuk memperhatikan keseluruhan siklus bila ingin mengelola engineering sistem dengan hasil yang optimal.

Tahap-tahap dalam sistem engineering mempunyai kurun waktu maupun sifat yang berbeda-beda tergantung dari keperluan, tujuan dan kompleksitas sistem tersebut. Pola umum Siklus Engineering Sistem di dalam siklus sistem (produk) mengikuti dibawah ini.






Pemahaman akan sifat siklus engineering sistem tersebut adalah penting untuk mengantisipasi, mengarahkan, dan merencanakan tindakan-tindakan pengelolaan yang tepat dalam Aspek desain-engineering. Siklus sistem dan siklus engineering sistem dimulai dengan timbulnya kebutuhan. Bila hal tersebut terjadi, yang harus dihadapi pertama-tama adalah mengidentifikasi seberapa jauh keperluan tersebut harus dipenuhi dan memperkirakan secara kasar seberapa besar sumber daya yang sekiranya diperlukan.

Pada taraf ini belum diperlukan analisis cara memecahkan persoalan yang timbul secara spesifik, tetapi baru dipusatkan pada cara mencari jawaban atas pertanyaan apakah benar kebutuhan tersebut harus segera diatasi dan diprioritaskan.

Adapun tahap atau proses selanjutnya adalah seperti berikut.

Tahap Konseptual

Memperjelas dan merumuskan permasalahan dalam suatu studi kelayakan, termasuk menentukan tujuan dan sasaran. Mengkaji dasar-dasar keperluan untuk mewujudkan sistem, operasi sistem, dan pemeliharaan.

Desain Pendahuluan dan Definisi Sistem

Menentukan fungsi utama sistem berarti meletakkan dasar untuk penyusunan kriteria dan spesifikasi peralatan yang diperlukan, kualitas dan kuantitas pegawai, fasilitas pendukung, pemeliharaan, dan lain-lain. Kemudian mengelompokkan dalam subsistem, dilanjutkan dengan melakukan analisis untuk mengevaluasi alternatif desain secara terperinci seperti :
  • Melihat semua aspek untuk mewujudkan sistem ( Konstruksi atau manufaktur ) operasi, dan Pemiliharaan.
  • Mendefinisikan masing-masing fungsi semua komponen sistem ( peralatan pendukung, dan lain-lain )
  • Mencari keseimbangan antara keperluan dengan sumber daya yang tersedia, dengan mengkaji parameter teknis yang dibandingkan dengan siklus biaya.
Jadi, misalnya pada suatu proyek E-MK, maka kegiatan ini mencoba menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan operasi, pemeliharaan, dan pendukungnya ke dalam parameter desain engineering secara spesifik, kuantitatif, dan kualitatif.

Desain Terinci

Desain terinci melanjutkan segala sesuatu yang dasar-dasarnya telah diletakkan pada langkah sebelumnya, terdiri dari kegiatankegiatan menyiapkan deskripsi konfigurasi subsistem, komponen sistem, dan perincian lain-lainnya. Pada akhirnya desain terinci menghasilkan dokumen-dokumen seperti gambar-gambar engineering, gambar konstruksi, dan lain-lain.

Termasuk kegiatan desain terinci adalah membuat model dan menyusun prosedur tes dan evaluasi. Secara singkat kegiatan ini terdiri dari  :

Deskripsi dari spesifikasi, kriteria, dan konfigurasi terinci dari subsistem atau komponen sistem. 
  • Membuat d okumen engineering subsistem seperti gambar engineering, gambar konstruksi, dan lain-lain .
  • Membuat model dari sistcm yang hendak dibangun.
  • Menyiapkan prosedur inspeksi , tes, dan evaluasi.
Seperti telah disinggung di muka bahwa desain-engineering hendaknya ditujukan ke arah pemenuhan kebutuhan operasi dan pemeliharaan sistem dengan mengingat kendala Biaya Siklus Sistem. Oleh karena itu, pada taraf desain terinci ini, masalah tersebut hendaknya telah dapat dipecahkan dan dimasukkan sebagai syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan produk-produk desain engineering.

Adapun kebutuhan operasi dan pemeliharaan yang dominan terdiri dari :
  • Memenuhi kinerja teknis (technical performance), baik kapasitas maupun mutu.
  • Bersifat tangguh atau dapat dipercaya (reliable), beroperasi dengan baik selama kurun waktu yang telah ditentukan.
  • Memperhatikan faktor manusia yang akan mengerjakan operasi dan pemeliharaan, tidak sulit, tidak cepat melelahkan, dan cukup memperhatikan aspek keamanan (safety).
  • Memperhatikan faktor productibility, constructibility, dan maintainability.
  • Keluwesan atau flexibility, misalnya, suatu sistem yang diwujudkan harus mampu beroperasi dengan kapasitas yang berubah-ubah atau mutu yang bervariasi.
Transportasi, sistem, atau produk yang dihasilkan telah memasukkan faktor transportasi yang dihadapi, misalnya ukuran, dimensi, berat rakitan, dan lain-lain.
  • Pemeriksaan dan inspeksi, yaitu, apakah sistem atau produk yang dihasilkan telah memperhatikan kemudahan bagi pemeriksaan, inspeksi, dan testing yang setiap waktu diperlukan.
  • Tersedianya material atau komponen di lokasi atau daerah yang berdekatan.

Setelah memperhatikan kebutuhan-kebutuhan di atas maka faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah pertimbangan ekonomis . Bagaimanapun baiknya hasil desain-engineering yang dibuat harus didukung juga oleh faktor ekonomi, agar dapat direalisasi dan dipertanggungjawabkan dalam jangka panjang.

Sistem Manajemen proyek

Pabrikasi dan Konstruksi

Pada tahap ini, engineering sistem mendukung aspek engineering dari seluruh kegiatan, mulai dari pembelian material, peralatan pabrikasi dan manufaktur, konstruksi, inspeksi, dan uji coba, dalam rangka mewujudkan sistem yang diinginkan menjadi kenyataan fisik, yang siap untuk dioperasikan.

Operasi atau Produksi

Pada tahap ini sistem beroperasi atau berproduksi (misalnya, pabrik), atau utilisasi (misalnya, pesawat terbang) . Pendekatan engineering sistem bermaksud mendukung sistem yang telah terwujud agar dapat beroperasi sesuai dengan kapasitas atau prestasi yang telah ditentukan dengan cara antara lain melakukan pemeriksaan, inspeksi berkala, evaluasi untuk perbaikan, dan lain-lain.

Pendukung dan Pemeliharaan

Tahap keenam ini merupakan aspek engineering dari pemeliharaan yang dapat di modifikasi bila diperlukan dan didukung pelayanan teknis yang lain agar sistem dapat beroperasi atau berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.

Menurun  dan Berhenti

Di sini fungsi sistem mulai menurun, misalnya karena bagian-bagian yang merupakan komponen (peralatan) telah menjadi usang dan akhimya seluruh sistem berhenti karena tidak ekonornis lagi untuk berfungsi. Pada aspek engineering diadakan evaluasi apakah perbaikan memang sudah tidak ekonomis lagi untuk dilakukan.

Sepanjang Proses Engineering Sistem dilakukan kegiatan evaluasi untuk meyakini bahwa sistem yang akan diwujudkan betul-betul dapat memenuhi tujuan dan sasaran yang telah ditentukan seperti kriteria mutu, prestasi, dan efisiensi dalarn operasi atau penggunaannya.

Siklus Proyek dan Siklus Sistem

Pada Pembahsan Sebelumnya tentang Konsep Sistem Manajemen Integrasi Proyek,  telah disinggung perihal siklus proyek. Di manakah letaknya siklus proyek tersebut bila dihubungkan dengan Siklus Sistem, misalnya sistem produk? Mengingat proyek adalah kegiatan a tau usaha yang bertujuan mewujudkan gagasan menjadi bentuk fisik, maka hal ini sama dengan bagian dari sistem, yaitu mulai dari definisi keperluan, tahap konseptual, engineering pendahuluan, engineering terinci, sampai dengan konstruksi atau manufaktur.

Di sini instalasi atau produk hasil proyek telah terwujud dalam bentuk fisik. Tahap atau proses perwujudan tersebut sering disebut akuisisi (acquisition). Adapun proses dari siklus sistem selanjutnya, seperti operasi atau produksi dan pemeliharaan, sudah di luar siklus proyek. Meskipun demikian, dalam menentukan berbagai faktor dan parameter pada proses akuisisi harus diperhitungkan keperluan keperluan tahap operasi atau produksi dan pemeliharaan. Inilah yang merupakan ciri pokok pendekatan total sistem.

Pendekatan Sistem Manajemen proyek

Manajemen Sistem

Jadi sebelumnya juga dibicarakan beberapa metodologi konsep sistem, yaitu analisis sistem dan engineering sistem. Metodologi yang lain adalah manajemen sistem, yaitu mengelola suatu organisasi atau usaha dengan pendekatan sistem.

Sarana halnya dengan dua metodologi terdahulu, manajemen sistem juga berorientasi ke totalitas. Hal ini berarti penekanan terletak pada keberhasilan tujuan sistem secara keseluruhan, dengan dernikian pengelolaan dilakukan berdasarkan pertirnbangan optimasi total sistem dan bukan komponen-komponennya.
Manajemen sistem menitikberatkan pada terselenggaranya koordinasi dan integrasi di antara komponen-komponennya, baik dalam aspek perencanaan, implementasi, maupun pengendalian agar terdapat sinkronisasi dalam usaha mencapai tujuan total sistem secara efektif. H. Kerzner (1989) merumuskan definisi manajemen sistern dipandang dari sudut pengelolaan perusahaan sebagai berikut:

"Sejumlah unsur, baik manusia ataupun bukan rnanusia (nonhuman) diorganisir dan diatur sedemikian rupa sehingga unsur-unsur tersebut bertindak sebagai kesatuan dalam rangka mencapai tujuan."

Jadi, manajemen sistem ditandai oleh orientasi keberhasilan misi total sistem. Keputusan-keputusan didasarkan atas optimasi total sistem, bukan unsur-unsurnya (kepentingan perusahaan, bukan kepentingan divisi-divisi logistik, pemasaran, manufaktur, dan lain-lain).

Umumnya usaha-usaha besar melibatkan banyak organisasi sebagai peserta, sehingga penanggung jawab langsung, dalam hal ini pimpinan sistem, hendaknya mencurahkan perhatiannya pada masalah-masalah saling ketergantungan dan keterkaitan di antara organisasi atau komponen organisasi peserta.

Demikianlah Sekilas informasi tentang Siklus Sistem dan Proses Engineering Sistem. Jika anda menyukai Materi ini Bisa IKUTI Updetan Materinya melalui facebook. Materi Selanjutnya Kita akan membahas tentang Manfaat Konsep Sistem Dalam Manajemen Proyek.

Klik Follow





Baca Selengkapnya ....
Share on :

Aplikasi Konsep Sistem dalam Proyek

Posted by Taufick Max 2 komentar

Aplikasi Konsep Sistem dalam proyek

 


Pada Pembahasan sebelumnnya yaitu  Konsep Sistem Manajemen Integrasi Proyek dan Unsur Sistem Proyek menjelaskan bahwa Konsep sistem adalah suatu konsep pemikiran yang bertujuan memandang sesuatu atas dasar totalitas. Langkah berikutnya adalah bertujuan mengetahui bagairnana aplikasi konsep sistem tersebut dalam melakukan suatu kegiatan. Misalnya, sebagai strategi untuk memecahkan suatu masalah, perencanaan, dan irnplementasi.

Untuk maksud tersebut dikenal suatu Pendekatan Sistem ( system approach ) dengan rumusan metodologinya, yaitu analisis sistem, engineering sistern, dan rnanajernen sistem seperti terlihat pada Gambar dibawah ini. Masing-masing metodologi tersebut akan dibahas berikut ini.



Analisis Sistem dalam Proyek

Pengambilan keputusan adalah bagian dari perencanaan yang akan selalu dihadapi oleh setiap pengelola suatu usaha. Pihak berwenang akan memilih altematif terbaik dari yang tersedia. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menentukan altematif yang terbaik. Untuk suatu persoalan yang sederhana, menentukan altematif mungkin dapat dilakukan tanpa banyak mengalami kesulitan, tetapi untuk sistem yang kompleks diperlukan metode tertentu untuk menghadapinya.

Dalam konsep sistem tersedia metodologi untuk menghadapi persoalan di atas, yaitu, analisis sistem. Pada garis besarnya analis sistem adalah menganalisis dan memecahkan masalah pengambilan keputusan dengan memilih alternatif yang terbaik, dengan melihat sumber daya yang diperlukan dibandingkan manfaat yang akan diperoleh, termasuk pengkajian risiko yang mungkin dihadapi.

Pemilihan di atas dilakukan dengan simulasi, atau metode matematis yang lain sebelum memberi kesimpulan dan mengambil keputusan berdasarkan judgment (penilaian) atas dasar pengalaman.


Proses Analisis Sistem

Telah disebutkan di atas bahwa analisis sistem adalah proses mempelajari suatu kegiatan, lazimnya dengan cara-cara matematis, untuk menentukan (mengambil keputusan) tuj uan, kemudian menyusun prosedur operasi dalam rangka mencapai tujuan tersebut secara efisien.

Dalam perkembangan selanjutnya, analisis sistem ini tidak hanya menggunakan cara matematis tetapi juga nonmatematis. Untuk membantu dan memudahkan pengambilan keputusan, analisis sistem acapkali mempergunakan model. Model ini dapat berbentuk fisik, formulasi matematik, atau program komputer.

Proses analisis sistem terdiri dari beberapa tahap, yaitu formulasi, penelitian, analisis/kesimpulan, dan verifikasi, seperti terlihat pada Gambar diatas.

Pada tahap pertama, adalah formulasi atau merumuskan ide yang timbul. Awal dari ide tersebut dapat berupa gagasan yang masih berupa konsep, kemudian dikemb angkan dengan memberikan penjelasan perihal tujuan, lingkup, risiko, dan lain-lain.

Tahap berikutnya adalah penelitian yang mengumpulkan dan mempelajari data dan informasi perihal gagasan tersebut. Pada tahap ini, komponen sistem dan hubungan di antaranya diidentifikasi, kemudian sumber daya yang diperlukan dan antisipasi hambatan yang mungkin timbul diperkirakan. Selanjutnya, alternatif untuk mencapai tujuan yang dimaksud disajikan.

Periode selanjutnya, adalah tahap analisis yang membuahkan kesimpulan. Pada tahap ini umumnya dibuat model untuk membandingkan alternatif-alternatif, yang hasilnya diajukan kepada yang berwenang untuk diambil keputusan.

Tahap akhir adalah verifikasi, di sini kesimpulan yang telah diambil diuji coba dalam praktek atau penggunaannya secara nyata, dengan demikian akan diketahui kebenaran atau kekurangan kesimpulan yang telah diambil.

Dari proses di atas terlihat bahwa metode analisis sistem relatif memerlukan waktu untuk menyelesaikan langkah-langkah yang diperlukan sebelum sampai kepada suatu kesimpulan, tetapi menyajikan suatu cara yang logis dan konsisten. Oleh karena itu, apabila yang dihadapi adalah pemilihan berbagai macam alternatif, maka metode ini dapat menghasilkan keputusan yang lebih akurat dibanding pertimbangan yang hanya bersifat intuitif.

Engineering Sistem

Engineering sistem adalah proses yang teratur dalarn aspek engineering untuk mewujudkan suatu gagasan rnenjadi sistem yang diinginkan bagi keperluan operasi atau utilisasi. Apabila digunakan definisi yang lengkap dari B. S. Blanchard (1990) akan menjadi sebagai berikut:

"Engineering sistern adalah aplikasi yang efektif dari usaha-usaha ilmu pengetahuan dan engineering dalam rangka mewujudkan kebutuhan operasional menjadi suatu sistem konfigurasi tertentu, melalui proses yang saling terkait berupa definisi keperluan analisis fungsional, sintesis, optimasi, desain, tes, dan evaluasi."


Dengan kata lain, dilihat dari sudut keperluan operasional, engineering sistem adalah metodologi dalam merekayasa dengan teratur dan sistematis dalam rangka memenuhi keperluan operasional yang timbul ke dalam suatu perwujudan fisik (fasilitas atau produk) dengan cara yang efektif dan efisien. Langkah-langkah tersebut terdiri dari :
  • Menjabarkan keperluan-keperluan Operasional Menjadi Parameter dari sistem yang diperlukan melalui proses analisis fungsional,definisi,sintesis,prestasi,keandalan, kemampuan produksi dan lain-lain.
  • Mengintegrasikan parameter-parameter teknik tersebut diatas keadalam suatu kegiatan desain engineering yang akan mengoptimalkan sistem secara keseluruhan.

Demikianlah Sekilas tentang Aplikasi Konsep Sistem dalam Proyek, Anda bisa mengikuti Updetan Materi berikut melalui Facebook. Materi Berikut masih seputaran Manajemen Sistem yaitu Siklus Engineering Sistem dalam Proyek.



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Unsur dan Sifat Sistem dalam Proyek

Posted by Taufick Max 0 komentar

Unsur dan Sifat Sistem dalam Proyek

Sistem Analisis proyek Konstruksi
Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang Unsur dan Sifat Sistem dalam Suatu Proyek. Materi ini berhubungan dengan Materi sebelumnya yaitu Konsep Sistem Manajemen Integrasi proyek.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa komponen-komponen sistem yang berupa unsur atau subsistem terkait satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang membentuk sistem.

Fungsi dan efektivitas sistem dalam usaha mencapai tujuannya tergantung dari ketepatan susunan rangkaian atau struktur terhadap tujuan yang telah ditentukan. Beberapa sifat yang melekat pada sistem dan masing-masing komponennya, demikian pula hubungan antara satu dengan yang lain adalah sebagai berikut:

Bersifat Dinamis

Sistem menunjukkan sifat yang dinamis, dengan perilaku tertentu. Perilaku sistem umumnya dapat diamati pada caranya mengkonversikan masukan (input) menjadi hasil ( output).

Sistem Terpadu Lebih Besar dari pada Jumlah Komponen-komponennya

Bila elemen-elemen atau bagian-bagian tersebut tersusun atau terorganisir secara benar, maka akan terjalin satu sistem terpadu yang lebih besar daripada jumlah bagianbagiannya. Sebagai contoh adalah pesawat terbang. Bila mesin, badan, sayap, ekor, dan roda tersusun dan terjalin secara benar menjadi satu pesawat (satu sistem) yang siap terbang, maka pesawat ini memiliki arti yang lebih besar daripada jumlah komponen-komponennya sebelum disusun atau dirakit.

Mempunyai Arti yang Berbeda

Satu sistem yang sama mungkin dipandang atau diartikan berbeda, tergantung siapa yang mengamatinya dan untuk kepentingan apa. Seperti contoh di atas, pesawat tidak dapat terbang, setelah diperiksa inspektor terungkap di bagian mesin ada sesuatu yang tidak benar.

Di bengkel mesin, diketahui penyebab ketidakberesan itu, yaitu bahwa mutu minyak pelumasnya di bawah standar. Pada contoh kasus di atas, inspektor berpandangan pesawat terbang sebagai keseluruhan merupakan satu sistem. Sedangkan di bengkel, mekanik berpandangan mesin saja sudah merupakan satu sistem. Bila perusahaan pemilik pesawat mengajukan perkara ke pengadilan, maka sistem di sini akan termasuk penjual dan mungkin juga pabrik penghasil minyak pelumas yang bersangkutan.

Mempunyai Sasaran yang Jelas

Salah satu tanda keberadaan sistem adalah adanya tujuan atau sasaran yang jelas. Umumnya identifikasi tujuan merupakan langkah awal untuk mengetahui perilaku suatu sistem dan bagian-bagiannya.

Mempunyai Keterbatasan

Sistem mempunyai keterbatasan yang disebabkan oleh faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar berupa hambatan dari lingkungan, sedangkan faktor dari dalam adalah keterbatasan sumber daya.

Gambar a

Gambar b


Siklus dan Proses Sistem

Aspek penting dari pendekatan sistem terletak pada siklus sistem dan prosesnya, yaitu perubahan teratur yang mengikuti pola dasar tertentu dan terjadi selama sistem masih aktif.

Sistem yang aktif akan bergerak seiring dengan berjalannya waktu. Seperti terlihat pada peristiwa alam, pola dasar dimulai dari lahir, kemudian tumbuh dan berkembang, mencapai prestasi puncak, menurun, dan akhimya berhenti tidak berfungsi lagi.

Semua produk atau fasilitas yang merupakan sistem buatan manusia juga mengikuti siklus dan proses seperti sistem ciptaan alam di atas. Dengan titik tolak pandangan demikian, maka dapat diantisipasi tahap-tahap yang akan dilalui dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengelola sistem dan semua tahap dengan sebaik-baiknya. Sebagai contoh, sistem buatan manusia adalah sistem produk (pesawat terbang) yang siklus dan proses sistemnya seperti pada Gambar a dan untuk sistem berbentuk pabrik dan fasilitas produksi yang lain terdapat pada Gambar b.

Penahapan dalam Siklus Sistem

Proses mewujudkan sistem untuk keperluan operasi atau produksi sampai siklus sistem berhenti berfungsi dikelompokkan menjadi beberapa tahap yang dibedakan atas jenis kegiatan yang dominan. Dalam hal ini terdapat beberapa sistematika pembagian tahap serta terminologi yang dipakai, seperti terlihat pada Gambar a dan b.

Tahap desain dan pengembangan yang terdapat pada Gambar a adalah identik dengan tahap PP I Definisi yang dibicarakan pada materi sebelumnya Tahapan Siklus menurut PMI. Jadi, menurut sudut pandang sistem, setiap sistem baik sistem produk, instalasi produksi atau manufaktur, atau yang lain, mempunyai masa siklus dan tahapan-tahapan tertentu. 

Bila hal tersebut tidak sepenuhnya dipahami maka akan mengarah kepada pengambilan keputusan yang tidak tepat, seperti tetap memproduksi produk yang sudah ketinggalan jaman, mempertahankan peralatan yang sudah usang teknologinya, menggunakan sistem pengelolaan yang sudah tidak cocok, dan lain-lain, yang kesemuanya dalam jangka panjang akan merugikan perusahaan.

Siklus Manajemen proyek

Siklus Sistem dan Siklus Biaya

Dalam rangka mewujudkan gagasanbmenjadi kenyataan fisik, maka perlu penilaianbmenyeluruh terhadap sistem yang bersangkutan. Yang dinilai adalah karakteristik teknis sistem yang dijabarkan sebagai parameter, spesifikasi, dan kriteria terhadap biaya yang diperlukan. Karakteristik sistem yang dihasilkan dari gabungan parameter teknis, seperti ukuran-ukuran dimensi, berat, kapasitas, prestasi, kecepatan, kualitas, keandalan, dan lain-lain yang pada gilirannya akan menentukan efektivitas teknis sistem.

Sisi lain yang perlu dikaji dan dipertimbangkan adalah biaya yang berkaitan dengan mewujudkan sistem tersebut, ditambah biaya untuk mendukung operasi atau produksi dan pemeliharaan. Biaya ini disebut siklus biaya (life cycle cost), mencakup semua biaya yang diperlukan selama periode siklus sistem (system life cycle), yaitu dari penelitian dan pengembangan, desainengineering, manufaktur dan konstruksi, sampai pada operasi atau produksi atau utilisasi dan pemeliharaan. Jadi, di sini berarti perhatian terhadap biaya haruslah integral, dan harus dihindari, misalnya, suatu sistem biaya akuisisinya rendah tetapi biaya operasi atau pemeliharaannya tinggi sehingga biaya total siklus sistem akan berjumlah tinggi. 

Siklus Sistem dan Siklus Biaya


Agar dapat memperkirakan dan menganalisis secara sistematis, biaya tersebut dikelompokkan menjadi biaya untuk mewujudkan sistem secara fisik /biaya proyek atau biaya akuisisi dan biaya yang berkaitan dengan operasi atau produksi dan pemeliharaan. Memperkirakan dan menganalisis kelompok biaya kedua lebih sulit dibanding kelompok pertama, hal ini disebabkan lamanya kurun waktu periode yang bersangkutan.

Kembali pada masalah mewujudkan sistem dan hubungannya dengan biaya selama siklus sistem, maka yang harus diusahakan adalah tercapainya keseimbangan optimal antara biaya yang diperlukan dengan sistem yang hendak diwujudkan untuk mencapai tujuan usaha. Ini berarti harus dilakukan analisis efektivitas sistem terhadap siklus biaya dan diadakan penyesuaian-penyesuaian sampai tercapai keseimbangan optimal antara biaya yang diperlukan, keterbatasan biaya, dan efektivitas sistem yang dapat dicapai.

Tentu saja setiap situasi akan melahirkan keseirnbangan optimal yang berbeda-beda tergantung dari gabungan parameter yang dikehendaki dan tersedianya biaya, atau sebaliknya. Keseimbangan antara siklus biaya sistem dan parameter sistem seperti pada gambar diatas.

Demikianlah Materi tentang Unsur dan Sifat Sistem dalam proyek ini, Semoga Bermanfaat. Jika anda menyukai Materi ini, anda bis amengikuti Materi berikutnya yaitu tentang Aplikasi Konsep sistem dalam proyek

Klik Follow Untuk Updetan Info berikutnya.





Baca Selengkapnya ....
Share on :

Konsep Sistem Manajemen Integrasi Proyek

Posted by Taufick Max Minggu, 22 Desember 2013 0 komentar

Konsep Sistem dan Manajemen Integrasi Proyek

konsep sistem manajemen proyek

 

Salam Civil Engineers, Bertemu lagi dalam Kampus-Sipil.com yang pada kesempatan ini akan kita bahas tentang Konsep Sistem dan Manajemen Integrasi proyek. Materi ini memiliki hubungan dengan materi sebelumnya yang telah kita bahas yaitu tentang Manajemen Komunikasi dalam Proyek

Pada Pembahasan sebelumnya Perilaku Siklus dalam Proyek  telah dikemukaan bahwa dari sudut pandang konsep sistem,proyek adalah bagian dari siklus sistem. Hal ini memberikan dasar konseptual yang amatnberguna dalam rangka melaksanakan fungsi perencanaan dan implementasi kegiatan suatu organisasi terutama bila kegiatan tersebut berskala besar dan kompleks yang bertujuan mewujudkan gagasan menjadi kenyataan fisik, seperti halnya proyek E-MK. Konsep tersebut ditandai oleh bertambah besarnya penekanan pada adanya definisi yang jelas dari keinginan yang akan dicapai dan analisis ilmiah dalam proses pengambilan keputusan.

Berikutnya, pada tahap implementasi, usaha menyelesaikan tugas hendaknya berorientasi pada totalitas, yaitu koordinasi dan integrasi pengelolaan subsistem atau komponen-komponennya, yang berarti memberikan dorongan pada usaha tim dalam merampungkan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan sistem dalam hal ini tujuan organisasi.

Pada Kesempatan ini membahas konsep sistem yang berhubungan dengan pengelolaan proyek, khususnya proyek yang bobot engineering-nya cukup substansial dan kompleks

Pembahasan dilanjutkan dengan pengelolaan integrasi yang merupakan aplikasi konsep sistem dalam mengelola para peserta proyek atau project stake holder agar terselenggara koordinasi baik dari mereka yang langsung berperan dalam penyelenggaraan proyek maupun yang menaruh kepentingan dengan adanya proyek.


Arti Konsep Sistem

Sebelum membahas lebih lanjut kegunaan konsep sistem dalam penyelenggaraan proyek, perlu dibahas arti konsep sistem, yang mulai diperkenalkan sekitar dekade 1920-an. Dalam perkembangan selanjutnya Buckley memberikan definisi konsep sistem sebagai berikut:

Suatu kebulatan atau totalitas yang berfungsi secara utuh, disebabkan adanya saling ketergantungan di antara bagianbagiannya dinamakan suatu sistem."

Sebagai contoh adalah suatu organisasi perusahaan yang utuh dan menyeluruh akan terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung baik berupa fisik dan nonfisik seperti pimpinan, tenaga pelaksana, keahlian, material, peralatan, dana, logistik, pemasaran, informasi dan lain-lain. Definisi lain yang lebih terinci perihal pemikiran sistem datang dari H. Kerzner (1989):

"Sekelompok komponen yang terdiri dari manusia dan/ atau bukan manusia(nonhuman) yang diorganisir dan diatur sedemikian rupa sehingga komponen-komponen tersebut dapat bertindak sebagai satu kesatuan dalam mencapai tujuan, sasaran bersama atau hasil akhir".


Definisi di atas menjelaskan pentingnya aspek pengaturan dan pengorganisasian komponen dari suatu sistem untuk mencapai sasaran bersama, karena bila tidak ada sinkronisasi dan koordinasi yang tepat maka kegiatan masing-masing komponen, subsistem, atau bidang dalam suatu organisasi akan kurang saling menunjang.

Seperti telah disebutkan di atas, kegunaan pendekatan ini amat menonjol terutama untuk menganalisis dan mengelola suatu fenomena, seperti kegiatan proyek yang besar dan kompleks, dikarenakan pendekatan ini mempunyai kemampuan membuat situasi yang selintas kelihatan tidak teratur (terdiri dari kegiatan-kegiatan yang tidak sejenis, dan ditangani oleh berbagai bidang internal dan eksternal perusahaan) menjadi rangkaian yang tertib dan saling terkait.


Komponen, Subsistem, dan Keterkaitannya

Batasan tentang sistem tidak lengkap tanpa menyinggung perincian unsur-unsur di dalam susunan hierarki tersebut. Setiap sistem terdiri dari komponen-komponen, dan komponen ini dapat dipecah menjadi komponen yang lebih kecil, yang bila dipandang dari segi hirarki dapat dinamakan sebagai subsistem. Atau dengan kata lain, subsistem adalah sistem yang menjadi bagian dari sistem yang lebih besar.

Bagian terkecil dari sistem disebut elemen. Sebagai contoh adalah Perusahaan Engineering dan Konstruksi pada Gambar diatas Perusahaan ini merupakan satu sistem, dimana Departemen Proyek dan Departemen Keuangan merupakan subsistem, sedangkan pegawai gedung, peralatan konstruksi, dan komunikasi adalah komponen. Tetapi untuk suatu tujuan tertentu, Departemen Proyek dapat pula dianggap sebagai sistem dan Bidang Konstruksi serta Bidang Engineering sebagai subsistemnya.

Mungkin itu saja sekilas tentang Konsep Sistem dan Manajemen Integrasi. Jika anda menyukai Materi ini, anda bisa IKUTI updetan materi berikutnya tentang Unsur dan Sifat Sistem dalam Proyek. Klik Follow untuk Ikuti updetannya melalui Facebook.



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Manajemen Komunikasi Dalam Proyek Konstruksi

Posted by Taufick Max 0 komentar

Manajemen Komunikasi Dalam Proyek Konstruksi

Siklus Manajemen Komunikasi Proyek

 

Salam Civil Engineers. Pada kesempatan ini yang akan menjadi Objek Pembahasan kita yakni Manajemen Komunikasi dalam Proyek Konstruksi. Materi ini tentu saja memiliki Hubungan dengan Materi-materi sebelumnya termasuk Manajemen Pengadaan dan Kontrak Proyek

Pengelolaan komunikasi adalah proses yang diperlukan agar mereka yang terlibat dalam proyek, misalnya stake holder, memperoleh informasi yang diperlukan dan pada waktu yang tepat. Ini dapat terdiri dari perumusan,pengumpulan, penyampaian, penerimaan dan penyimpanan informasi proyek. Sistematika proses pengelolaan komunikasi dapat dilihat pada gamar dibawah ini :

Manajemen Komunikasi Proyek Konstruksi
Proses Manajemen Komunikasi Proyek

Perencanaan Komunikasi

Perencanaan komunikasi meliputi penentuan jenis informasi dan komunikasi yang diperlukan proyek, seperti kepada siapa, kapan waktunya, dan bagaimana cara menyampaikannya. Output dari langkah ini adalah lembaran perencanaan komunikasi.

Kemampuan Manajemen Komunikasi proyek

Distribusi Informasi

Proses ini bertujuan untuk memberikan materi informasi yang diperlukan stake holder tepat pada waktunya. Output dari langkah ini adalah lembaran atau catatan informasi.
Distribusi Komunikasi Proyek Konstruksi

Laporan

Proses ini berkaitan dengan pembuatan laporan kemajuan proyek serta sumber daya yang telah digunakan untuk melakukan kegiatan sampai saat pelaporan. Output dari langkah ini adalah laporan kemajuan atau kinerja proyek.
Laporan Manajemen Komunikasi Proyek


Penutupan Administrasi

Penutupan administrasi meliputi verifikasi dan dokumentasi laporan yang penting guna mempersiapkan laporan penyelesaian proyek dan project acceptance. Output dari langkah ini adalah dokumen laporan penutupan proyek dan fonnal acceptance.

Teknik, Metode, dan Prosedur

Teknik, metode, dan prosedur pengelolaan komunikasi adalah mengadakan pertemuan dan rapat, membuat laporan tertulis, dan menggunakan sistem informasi manajemen proyek.

Dampak Manajemen komunikasi Proyek


Demikianlah Sekilas pembahasan tentang Manajemen Komunikasi dalam proyek. Materi tentang Komunikasi secara jelasnya akan dibahas pada materi-materi selanjutnya.

Bagi anda yang menyukai Materi ini bisa mengikuti Materi selanjutnya tentang Konsep Sistem dan manajemen Integrasi Proyek. IKUTI Updetan Materinya Melalui Facebook dengan cara Klik FOLLOW.



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Manajemen Pengadaan dan Kontrak Proyek

Posted by Taufick Max Sabtu, 21 Desember 2013 0 komentar

Manajemen Pengadaan dan Kontrak Proyek

Manajemen Pengadaan Proyek, Manajemen Kontrak Proyek, Manajemen Pengadaan dan Kontrak Proyek Konstruksi
SALAM CIVIL ENGINEERs.Bertemu lagi dalam Kampus-Sipil.com ini dalam rangka mempelajari Ilmu Teknik Sipil, sehingga kita benar-benar menjadi ahli Rekayasa yang bisa bermanfaat bagi manusia-manusia yang lain.

Materi pada kesempatan ini yaitu tentang Manajemen Pengadaan dan Kontrak Proyek. Materi ini sangat Berhubungan dengan Materi sebelumnya yang telah kita bahas, Yaitu Manajemen Resiko dalam Proyek Konstruksi Silahkan anda membacanya. Oke kita langsung saja dalam Topik pembahasannya.

Pengelolaan pengadaan dan kontrak meliputi kegiatan yang berkaitan dengan usaha mendapatkan barang dan/ atau jasa dari pihak luar untuk proyek. Bila kontraktor utama berfungsi sebagai pelaksana, maka pihak luar tersebut dapat terdiri dari Subkontraktor, Rekanan, Konsultan dan lain-lain. Untuk maksud tersebut diadakan ikatan seperti Kontrak Jasa, Pembelian, Bantuan Teknis, dan lain-lain. Proses pengadaan dan kontrak terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :

Proses Manajemen Kontrak proyek, Proses Manajemen Pengadaan Barang dan Jasa proyek
Proses Manajemen Pengdaan dan Kontrak

Perencanaan Pengadaan

Proses ini diawali dengan mengidentifikasi Jasa, Material, dan Peralatan yang diperlukan proyek dan diteruskan dengan membuat spesifikasi dan kriteria. Output dari langkah ini adalah Kebijakan Pengadaan dan Lembaran yang berisi Daftar Material dan Jasa yang akan diadakan, berikut perkiraan jadwal yang diperlukannya. Pada tahap ini juga disusun kebijakan pengadaan yang antara lain merumuskan Policy dan Prosedur tentang Persetujuan, Sole Source, Lelang, dan lain-lain.

Manajemen Pengadaan Barang dan Kontrak

Penyiapan Dokumen Kontrak dan Lelang

Dokumen utama untuk proses pengadaan terdiri dari dokumen lelang yang memuat Undangan Lelang, Rancangan Kontrak dan Kriteria Seleksi. Output dari langkah ini adalah Paket Lelang atau RFP.

Manajemen Dokumen Kontrak Proyek Konstruksi

Proses Lelang

Selanjutnya, melalui proses lelang dan negosiasi terjadilah akuisisi yang ditandai dengan penandatanganan kontrak. Output dari langkah ini adalah Dokumen Proposal dan Kontrak.

Manajemen Pengadaan Proyek Konstruksi

Administrasi Kontrak

Administrasi kontrak meliputi kegiatan-kegiatan yang bertujuan agar proses dan kinerja pengadaan memenuhi pasal-pasal yang tercantum dalam kontrak. Output dari langkah ini adalah Penyerahan dan Penerimaan Deliverable, Change Order, dan Pembayaran.

Lingkaran Manajemen Kontrak Proyek, Manajemen Pengadaan Barang dan Jasa

Teknik, Metode, dan Prosedur

Dikenal berbagai teknik, metode, dan prosedur pengelolaan pengadaan, antara lain :
  • Analisis sewa atau beli.
  • Pemi lihan jenis kontrak.
  • Metode seleksi (kontraktor, subkontaktor, konsultan).
  • Jenis cara pembayaran .
  • Pengendalian perubahan .
  • Audit keuangan dan kinerja

Manajemen pengadaan dan kontrak Proyek ini akan dibahas secara Mendetail Pada Materi berikutnya  yang terdiri dari Penyusunan Proposal proyek, Administrasi Kontrak dan Keuangan, serta Audit Proyek.

Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa, Pengelolaan Kontrak Proyek Konstruksi


Demikianlah Sekilas tentang Manajemen Pengadaan dan Kontrak Proyek. Jika anda menyukai Materi ini Anda bisa IKUTI Updetan materi terbaru Melalui Facebook. Materi Berkut yaitu mengenai Manajemen Komunikasi dalam proyek Konstruksi.

Klik FOLLOW.

Baca Selengkapnya ....
Share on :

Manajemen Resiko dalam Proyek Konstruksi

Posted by Taufick Max Jumat, 20 Desember 2013 0 komentar

Manajemen Resiko dalam Proyek Konstruksi

Manajemen Resiko Proyek
Manajemen Resiko
Salam Civil Engineers, Bertemu lagi dalam Kampus-Sipil.com ini dalam rangka mempelajari lebih Jauh tentang Ilmu Teknik Sipil. Pada kesempatan ini yang menjadi Materi pembahasan kita yaitu Manajemen Resiko dalam Proyek Konstruksi. materi ini berhubungan dengan Materi yang sudah kita bahas pada waktu sebelumnya yaitu Tentang Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Proyek. Oke Langsung saja Pembahasannya.

Dalam konteks proyek, pengelolaan risiko meliputi identifikasi secara sistematis jenis, besar, dan sumber risiko selama Siklus Proyek, penyiapan tanggapan yang tepat dalam arti meningkatkan segi positif dan menurunkan dampak negatif yang mungkin timbul, selanjutnya pemantauan dan pengendalian terhadap pelaksanaannya.

Pengelolaan Resiko Proyek

Contoh untuk ini adalah disediakannya kontinjensi dalam Aspek Biaya dan Jadwal. Jadi, di sini pengelolaan bersifat proaktif dan bukannya reaktif yang menunggu sampai terjadinya persoalan yang sulit diatasi. Sistematika proses pengelolaan risiko terlihat Pada Gambar dibawah ini :

Manajemen Resiko Proyek Konstruksi
Proses Manajemen Resiko Proyek

Identifikasi dan Klasifikasi Resiko

Kegiatan ini terdiri dari identifikasi segala kemungkinan terjadinya risiko yang memiliki dampak yang berarti terhadap keberhasilan proyek. Kemudian diadakan klasifikasi agar pengelolaannya dapat sistematis dan tepat. Output dari langkah ini adalah Pengenalan Sumber Resiko, Sifat Resiko, serta Potensi terjadinya risiko.

Klasifikasi Manajemen resiko proyek

Kuantifikasi Resiko

Setelah mengidentifikasi risiko selama siklus proyek secara menyeluruh, langkah selanjutnya adalah mengadakan Analisis dan Penilaian secara Kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan terhadap proyek dan tingkat kemungkinan atau probabilitas terjadinya. Output dari langkah ini adalah Kuantifikasi Risiko serta Dimensi Dampak yang ditimbulkan.

Manajemen Resiko Proyek Konstruksi

Tanggapan terhadap Resiko

Tanggapan yang dimaksud ialah usaha-usaha, perencanaan dan strategi dalam kaitannya dengan ancaman. Ini dapat berupa :
  • Menghindari atau menghilangkan ancaman yang bersifat khusus.
  • Mengurangi nilai risiko, misalnya dengan menurunkan kemungkinan terjadinya permasalahan yang bersangkutan.
  • Menerima risiko, misalnya dengan menyiapkan kontinjensi.
Output dari langkah ini adalah dokumen yang berisi perencanaan manajemen untuk menanggapi risiko proyek, seperti menutup asuransi, menyiapkan kontinjensi, cadangan dan mencantumkan dalam kontrak pasal yang mengatur sharing hila timbul risiko.

Pengendalian Resiko Proyek Konstruksi

Program Pemantauan dan Pengendalian

Langkah ini bermaksud memantau dan mengawasi pelaksanaan penanganan risiko yang telah digariskan di butir ke 3. Output dari langkah ini adalah Tindakan Koreksi terhadap penyimpangan dan Revisi Program Pemantauan.

Di samping langkah-langkah di atas, perlu pula menyiapkan dokumen untuk mengumpulkan catatan risiko yang terjadi, sebab-sebab dan penanganannya. Dokumen tersebut akan merupakan data base bagi evaluasi yang berkelanjutan untuk proyek yang sedang ditangani ataupun yang akan datang.

Pengukuran Manajemen Resiko Proyek
Pemantauan Resiko Proyek

Teknik dan Metode

Teknik dan metode yang lazim dipakai untuk pengelolaan risiko adalah ;
  • Simulasi, misalnya simulasi Monte Carlo untuk melihat kemungkinan melesetnya suatu jadwal.
  • Metode berdasarkan ilmu statistik, terutama untuk melihat distribusi probabilitas perkiraan biaya dan lain-lain.
  • Decision tree.
  • Pengadaan kontrak dan penutupan asuransi.
  • Penyediaan kontinjensi.
Pengelolaan Manajemen Resiko Proyek

Pembahasan pengelolaan risiko disajikan ini, akan di Bahas secara Mendetail pada Materi berikut yang terdiri dari identifikasi dan klasifikasi risiko, tanggapan dan pengendalian risiko, serta kuantifikasi risiko dan tingkat kerumitan proyek.

Demikianlah sekilas Pembahasan Kita tentang Manajemen Resiko dalam Proyek Konstruksi. Jika anda Menyukai Materi ini, Bisa anda IKUTI Updetan Materi Berikutnya Tentang  Manajemen Pengadaan dan Kontrak Proyek Konstruksi.

Klik FOLLOW untuk Update Info



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Manajemen Sumber Daya Manusia Proyek

Posted by Taufick Max 0 komentar

Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Proyek

Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Proyek
Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Proyek
Salam Civil Engineers. Pembahasan kita pada Kesempatan ini yaitu tentang Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Proyek. Materi ini berhubungan dengan materi sebelumnya yang telah kita bahas yaitu Metode Manajemen Biaya, Waktu, dan Mutu Proyek.

Satu jenis pengelolaan yang mungkin tersulit adalah pengelolaan sumber daya manusia. Pengelolaan ini bertujuan untuk mengupayakan penggunaan secara efektif sumber daya manusia proyek. Pengelolaan ini dimulai dari inventarisasi kebutuhan, merekrut atau mengajukan keperluan, menyusun organisasi, membentuk tim, serta mempraktekkan cara kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan kegiatan proyek. 

Dalam kaitan ini pimpinan proyek diharapkan menguasai aspek motivasi, perilaku hubungan antarmanusia dan kecakapan penanganan konflik (conflict management) fungsi kepemimpinan. Hal ini dilakukan mengingat otoritas formal pimpro umumnya relatif terbatas serta siklus proyek amat singkat.

Proses Pengelolaan Sumber Daya Manusia, Manajemen Sumber daya Manusia dalam Proyek
Proses Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Proyek

Perencanaan Organisasi Proyek

Proses perencanaan organisasi meliputi identifikasi lingkup kerja proyek, inventarisasi keperluan personil, kemudian penentuan tugas dan tanggung jawab, peranan serta jalur pelaporan anggota atau kelompok yang akan menangani proyek. Untuk proyek E-MK, perencanaan organisasi biasanya digolongkan menjadi organisasi kantor pusat (head office) dan lapangan. Output dari langkah ini adalah bagan struktur organisasi proyek, uraian tugas bagi posisi-posisi penting atau kunci, serta perencanaan pengisian personil.

Manajemen Sumber Daya Manusia Proyek Konstruksi
Penentuan Tugas dan tanggung Jawab

Pengisian Personil proyek

Pengisian personil terdiri dari kegiatan mencari, menyeleksi dan melatih personil proyek yang akan ditugaskan di kantor pusat ataupun lapangan. Personil proyek dapat berasal dari induk organisasi atau dari luar, misalnya konsultan atau kontraktor. Output dari langkah ini adalah tersedianya personil proyek yang siap untuk diberikan tugas sesuai dengan rencana.

Penentuan Tenaga Kerja Dalam Proyek, Perekrutan Tenaga Kerja
Perekrutan tenaga Kerja dalam Proyek

Pembentukan Tim Proyek

Pembentukan tim merupakan proses yang amat penting dari segi pengelolaan sumber daya manusia proyek. Proses ini bermaksud meningkatkan kecakapan dan kinerja personil dan kerja sama dalam tim guna melaksanakan kegiatan proyek. Langkah ini dianggap penting karena mereka (personil) proyek umumnya datang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Lebih-lebih bila proyek bekerja dengan organisasi matriks yang memiliki dua jalur pelaporan. Output dari langkah ini adalah terbentuknya tim proyek yang semakin lama semakin meningkat kinerjanya.

Tim Kerja dalam Proyek  Konstruksi
Kerja sama Dalam proyek

Teknik dan Metode

Teknik dan metode pengelolaan sumber daya manusia meliputi :
  • Penggunaan teori umum organisasi dan manajemen.
  • Penggunaan kebijakan dan prosedur perusahaan yang bersangkutan.
  • Pengadaan metode kontrak jangka pendek untuk merekrut personil.
  • Pelatihan dan kursus untuk meningkatkan efektivitas tim.
Manajemen Sumber Daya Manusia Proyek


Demikianlah Sekilas tentang Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Proyek. Pembahasan tentan Manajemen Sumber Daya Manusia akan dibahas pada materi Penyusunan Organisasi Proyek dan Pembentukan Tim Kepemimpinan Proyek.

Jika anda Menyukai Materi ini, Bisa Anda IKUTI Updetan Materi Berikut melaui Facebook. yang akan membahas tentang Manajemen Resiko dalam Proyek Konstruksi.
KLIK FOLLOW



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Metode Manajemen Biaya Waktu dan Mutu Proyek

Posted by Taufick Max Rabu, 18 Desember 2013 0 komentar

Metode Manajemen Biaya, Waktu, dan Mutu Proyek

Teknik Manajemen Biaya Proyek, Teknik Manajemen Mutu Proyek, Teknik Manajemen Biaya Proyek

 

Selamat datang kembali Para Civil Engineers semuanya. Jika sebelumnya kita telah Bahas tentang Manajemen Integrasi dan Lingkup Proyek   Maka Materi pembahasan Kita kali ini adalah Manajemen Biaya, Waktu, dan Mutu dalam Proyek Konstruksi. Tentu Setiap materinya memiliki Hubungan atau bisa dikatakan Sebelum kita membahas tentang Cara pengelolaan Biaya, waktu, dan Mutu, Maka Kita harus sudah lebih dahulu tahu Bagaimana Lingkup dalam Proyek dan hubungannya. Untuk itu Bagi anda yang belum baca Materi sebelumnya tentang Manajemen Integrasi dan Lingkup Proyek, mungkin bisa membacanya sebelum baca Materi ini.

Pengelolaan/Manajemen Biaya

Pengelolaan biaya meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan dan pemakaian dana proyek, mulai dari proses memperkirakan jumlah keperluan dana, mencari dan memilih sumber dan macam pembiayaan, perencanaan serta pengendalian alokasi pemakaian biaya sampai pada akuntansi dan administrasi pinjaman/keuangan.

Manajemen Biaya Proyek, Pengelolaan Biaya Proyek Konstruksi
Proses Pengelolaan Biaya

Perencanaan Sumber Daya Proyek

Perencanaan sumber daya meliputi pengidentifikasian jenis dan kuantitas sumber daya (manpower, peralatan, dan material) yang diperlukan guna melaksanakan pekerjaan sesuai dan lingkup proyek. Output dari proses ini ialah catatan atau Daftar Jenis Sumber Daya yang diperlukan serta kuantitas masing-masing komponennya.

Perkiraan Biaya Proyek

Kuantitas dan jenis sumber daya diidentifikasi dilanjutkan dengan Estimasi Keperluan Biaya guna pengadaan sumber daya bersangkutan yang dinyatakan dalam satuan uang, misalnya rupiah. Mengadakan perkiraan biaya termasuk mengkaji atau menjadi alternatif terbaik dari segi biaya. Output dari proses ini adalah dokumen yang berisi Perkiraan Biaya Proyek beserta penjelasan yang diperlukan.

Penyusunan Anggaran Proyek

Penyusunan anggaran berarti memerinci Alokasi Biaya untuk masing-masing kegiatan, yang diintegrasikan dengan jadwal penggunaannya. Anggaran ini nantinya akan menjadi tolok ukur pengendalian kinerja kegiatan yang bersangkutan. Output dari proses ini adalah Dokumen Anggaran Biaya Proyek serta rencana penarikannya.

Pengendalian Biaya Proyek

Proses pengendalian biaya termasuk memantau dan mencatat apakah penggunaan biaya telah sesuai dengan perencanaan. Bila tidak sesuai, dicari sebabnya dan dievaluasi dampak yang mungkin terjadi serta diadakan koreksi. Output dari proses ini adalah Change Order dan Revisi Anggaran.

Teknik dan Metode

Dikenal banyak teknik dan metode pengelolaan biaya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut:
  • Mengkaji catatan masa lalu (data historis).
  • Menggunakan data bank, katalog, dan indeks harga.
  • Metode parametris, metode Lang, dan rumus Hirsch & Glazier.
  • Quantity take-off dan harga satuan.
  • Varians dan metode earned value.
  • Cost and schedule control system criteria.
  • Rekayasa nilai.

Materi Pengelolaan Biaya akan dibahas lebih Lengkap pada Materi Tersendiri yang terdiri dari Perkiraan Sumber Daya, Biaya dan Anggaran, serta proses dan Metode Pengendalian Biaya.

Manajemen Mutu proyek, Pengelolaan Mutu Proyek, Manajemen Mutu Konstruksi

Pengelolaan Waktu atau Jadwal

Waktu atau jadwal merupakan salah satu sasaran utama proyek. Keterlambatan akan mengakibatkan berbagai bentuk kerugian, misalnya penambahan biaya, kehilangan kesempatan produk memasuki pasaran, dan lain-lain. Pengelolaan waktu mempunyai tujuan utama agar proyek diselesaikan sesuai atau lebih cepat dari rencana dengan memperhatikan batasan biaya, mutu dan lingkup proyek.

Manajemen Waktu Proyek, Pengelolaan Waktu Proyek, Manajemen Jadwal Proyek, Pengelolaan Jadwal proyek
Proses Pengelolaan Waktu

Identifikasi Kegiatan Proyek

Proses pengelolan waktu diawali dengan mengidentifikasi kegiatan proyek agar komponen lingkup proyek WBS atau deliverables yang telah ditentukan dapat terlaksana sesuai dengan jadwal. Output dari proses ini ialah Daftar Kegiatan dan WBS.

Penyusunan Urutan Kegiatan Proyek

Setelah diuraikan menjadi komponen-komponennya, lingkup proyek disusun kembali menjadi urutan kegiatan sesuai dengan logika ketergantungan. Output dari proses ini ialah Jaringan Kerja Proyek.

Perkiraan Kurun Waktu Proyek

Setelah terbentuk Jaringan Kerja , masing-masing komponen kegiatan diberikan perkiraan kurun waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan yang bersangkutan. Output proses ini adalah jaringan kerja yang telah Memiliki Kurun Waktu dan Perkiraan Sumber Daya yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan tersebut.

Penyusunan Jadwal proyek

Jaringan kerja yang masing-masing komponen kegiatannya telah diberi kurun waktu kemudian secara keseluruhan dianalisis dan dihitung kurun waktu penyelesaian proyek dan milestone yang merupakan titik penting dari sudut jadwal proyek. Output dari proses ini adalah Jadwal Induk, Milestone dan Jadwal untuk Pelaksanaan Pekerjaan di lapangan.

Pengendalian Waktu dan Jadwal proyek

Pengendalian waktu meliputi kegiatan yang berkaitan dengan pemantauan dan pengkoreksian agar "progres" pekerjaan proyek sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Output dari proses ini adalah Revisi Jadwal Induk, Milestone dan Jadwal Pekerjaan Lapangan.

Teknik dan Metode

Teknik dan metode yang berkaitan dengan pengelolaan waktu atau jadwal adalah sebagai berikut :
  • Bagan balok dan jaringan kerja (CPM, PERT, PDM) untuk menyusun jadwal dan menganalisis waktu penyelesaian proyek.
  • Data bank dan historical record untuk memperkirakan kurun waktu komponen kegiatan.
  • Resource leveling untuk meratakan penggunaan sumber daya.
  • Cost and shedule trade off untuk mencari jadwal yang ekonomis.
  • Simulasi, misalnya analisis Monte Carlo.
  • Fast tracking.
Salah satu teknik spesifik untuk Pengendalian Waktu Proyek adalah mengelola Float atau Slack pada Jaringan Kerja, serta konsep cadangan waktu (time reserved) yang diperkenalkan oleh D. H. Bush ( 1 9 9 1 ) Materi Pengelolaan Waktu dan Jadwal Kita akan membahasnya Pada Materi tersendiri.

Manajemen Waktu Proyek, Manajemen Jadwa proyek Konstruksi, Pengelolaan Waktu Proyek

Manajemen / Pengelolaan Mutu

Pengelolaan mutu meliputi kegiatan-kegiatan yang diperlukan agar hasil proyek memenuhi persyaratan, kriteria dan spesifikasi yang telah ditentukan. Agar suatu produk atau servis hasil proyek memenuhi syarat penggunaan, diperlukan suatu proses yang panjang dan kompleks, mulai dari mengkaji syarat yang dikehendaki oleh pemilik proyek atau pemesan produk, menyusun program mutu, dan akhimya merencanakan dan mengendalikan aspek mutu pada tahap implementasi atau produksi.

Manajemen Mutu Proyek, Pengelolaan Mutu proyek
Proses Pengelolaan Mutu

Program Pengelolaan Mutu

Program pengelolaan mutu menitikberatkan perencanaan sistematik suatu kegiatan yang bertujuan memberikan keyakinan (confidence) bahwa proyek akan dapat memenuhi standar mutu yang ditentukan. Program ini antara lain meliputi Identifikasi Kriteria dan Spesifikasi yang akan dipakai proyek, kemudian mengkaji relevansinya dengan standar yang telah dibakukan (established) dan membuat perencanaan perihal kebijakan kualitas dan mereview organisasi yang akan menanganinya. Output dari proses ini adalah Dokumen Policy Kualitas, Organisasi Pelaksanaan, dan Rencana Kerja.

Quality Assurance (QA)

Quality Assurance meliputi semua kegiatan dalam quality system yang bertujuan memberikan kepercayaan kepada semua pihak yang berkepentingan bahwa semua tindakan yang diperlukan untuk mencapai standar mutu proyek telah dilaksanakan dengan berhasil.

Quality Control (QC)

Quality Control meliputi semua kegiatan yang berhubungan dengan pemantauan dan pengkajian hasil proyek (baik hasil antara atau final) untuk menentukan apakah telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, kemudian mengidentifikasi cara untuk menghilangkan sebab terjadinya penyimpangan. Output dari proses ini adalah Perbaikan (bila terjadi penyimpangan) dan Keputusan Persetujuan atau acceptance (bila sesuai dengan spesifikasi).

Teknik dan Metode

Teknik dan metode yang penting dalam pengelolaan mutu adalah sebagai berikut :
  • Destruction test .
  • Inspeksi dan uji coba kemampuan kinerja (performance test)
  • Control chart .
  • Pareto diagram .
  • Metode sampling
Materi Manajemen Mutu akan dibahas pada Materi Tersndiri yang terdiri dari Perencanaan, Penjaminan (QA), dan Pengendalian Mutu (QC)

Manajemen Waktu proyek, Manajemen Mutu proyek, manajemen biaya Proyek


Demikianlah Sekilas tentang Manajemen Biaya, Waktu, dan Mutu dalam Proyek. Materi Selanjutnya yaitu tentang Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Proyek. Jika anda Suka materi ini IKUTI Updetan Materi Berikut dengan KLIK FOLLOW.




Baca Selengkapnya ....
Share on :

Materi Populer