Menyusun Jadwal Metode Jalur Kritis ( CPM )

Posted by Taufick Max Jumat, 17 Januari 2014 0 komentar
Share on :

Menyusun Jadwal dengan Metode Jalur Kritis ( CPM )

menyusun jadwal proyek
Menyusun Jadwal Proyek dengan Metode Jalur Kritis

 

Pada pembahasan sebelunya telah dibahas bagaimana Cara Membuat Jaringan Kerja , Identifikasi Lingkup Menjadi Komponen Proyek, Cara menggambar Network Planing ProyekMenyusun Urutan kegiatan Network Proyek, sampai pada Menyusun Kurun Waktu Kegiatan Proyek. dan Saat ini yang dibahas yang Cara menyusun Penjadwalan Proyek dengan menggunakan Metode Jalur Kritis atau CPM.

Seperti telah disinggung sebelumnya, dalam hubungan ini terdapat metode dan teknik yang terkenal, di antaranya ialah Metode Jalur Kritis (CPM), Project Evaluation and Review Technique (PERT), Preseden Diagra Method (PDM) serta Grafical Evaluation and Review Technique, (GERT).

Tiga metode pertama Sering dijumpai pada kegiatan konstruksi dan penelitian. dan yang menjadi Pembahasan Kita saat ini yaitu Menyusun Jadwal dengan Metode Jalur Kritis ( CPM )

Pada metode CPM dikenal adanya jalur kritis yaitu jalur yang memiliki rangkaian komponen-komponen kegiatan dengan total jumlah waktu terlama dan menunjukkan kurun waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Jadi, jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan kritis, dimulai dari kegiatan pertama sampai pada kegiatan terakhir proyek.

Makna jalur kritis penting bagi pelaksana proyek, karena pada jalur ini terletak kegiatan-kegiatan yang bila pelaksanaannya terlambat akan menyebabkan keterlambatan proyek secara keseluruhan. Kadang-kadang dijumpai lebih dari satu jalur kritis dalam jaringan kerja.

Penjadwalan Proyek Konstruksi
.

Terminologi dan Perhitungan CPM

Dalam proses identifikasi jalur kritis, dikenal beberapa terminologi dan rumus-rumus perhitungan sebagai berikut:

TE = E

Waktu paling awal peristiwa (node/event) dapat terjadi ( Earliest Time of Occurance ), yang berarti waktu paling awal suatu kegiatan yang berasal dari node tersebut dapat dimulai, karena menurut aturan dasar jaringan kerja, suatu kegiatan baru dapat dimulai bila kegiatan terdahulu telah selesai.

TL = L

Waktu paling akhir peristiwa boleh terjadi ( Latest Allowable Event/Occurance Time ), yang berarti waktu paling lambat yang masih diperbolehkan bagi suatu peristiwa terjadi.

ES

Waktu mulai paling awal suatu kegiatan ( Earliest Start Time ). Bila waktu kegiatan dinyatakan atau berlangsung dalam jam, maka waktu ini adalah jam paling awal kegiatan dimulai.

EF

Waktu selesai paling awal suatu kegiatan ( Earliest Finish Time ). Bila hanya ada satu kegiatan terdahulu, maka EF suatu kegiatan terdahulu merupakan ES kegiatan berikutnya.

LS

Waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai ( Latest Allowable Start Time ), yaitu waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat proyek secara keseluruhan.

LF

Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai ( Latest Allowable Finish Time ) tanpa memperlambat penyelesaian proyek.

D

Adalah kurun waktu suatu kegiatan. Umumnya dengan satuan waktu hari, minggu, bulan, dan lain-lain.

Menghitung waktu proyek

Hitungan Maju

Dalam mengidentifikasi jalur kritis dipakai suatu cara yang disebut hitungan maju. Berikut ini adalah contoh sederhana untuk maksud di atas, dengan memakai visualisasi proyek seperti yang terdapat pada Gambar  dibawah ini. Pertama-tama perlu diingat kembali aturan atau kaidah dalam menyusun jaringan kerja berikut ini.
Proyek dengan 6 Komponen kegiatan

Aturan ke 1. 

Kecuali kegiatan awal, maka suatu kegiatan baru dapat dimulai bila kegiatan yang mendahuluinya (predecessor) telah selesai.

Peristiwa 1 menandai dimulainya proyek. Di sini berlaku pengertian bahwa waktu paling awal peristiwa terjadi adalah = 0 atau E (1) = 0. Aturan selanjutnya untuk hitungan maju adalah seperti berikut ini.

Aturan ke 2

Waktu selesai paling awal suatu kegiatan adalah sama dengan waktu mulai paling awal, ditambah kurun waktu kegiatan yang bersangkutan. EF = ES + D atau EF(i-j) = ES (i-j) + D (i-j).

Jadi, untuk kegiatan 1-2 didapat : EF(1-2) = ES(1-2) + D = 0 + 2= 2.

Analog dengan perhitungan di atas maka waktu selesai paling awal kegiatan 2-3 adalah hari ke-2 plus ke-3, sama dengan hari ke-5. Berikutnya kegiatan 2-4, kegiatan ini dimulai segera setelah kegiatan 1-2 selesai.

Dengan kata lain, waktu mulai paling awal bagi kegiatan 2-4 adalah sama dengan waktu selesai paling awal dari kegiatan 1-2, sehingga waktu selesai paling awal kegiatan 2-4 adalah : EF (2-4) = 2 + 5 = 7.

Dengan pengertian yang sama maka mulainya kegiatan 3-5 ditentukan oleh selesainya kegiatan 2-3, dan waktu selesai paling awal kegiatan 3-5 adalah : EF (3-5) = 5 + 4 = 9. Sedangkan untuk kegiatan 4-5 didapat: EF(4-5) = 7 + 6 = 13.

Kemudian sampai pada kegiatan 5-6, di mana sebelumnya didahului oleh 2 kegiatan, yaitu 4-5 dan 3-5. Kaidah dasar jaringan kerja menyatakan bahwa kegiatan 5-6 baru dapat dimulai bila semua kegiatan yang mendahuluinya telah selesai.

Pada contoh ini kegiatan 3-5 selesai pada hari ke-9, tetapi kegiatan 4-5 baru selesai pada hari ke-13, sehingga hari ke- 13 adalah waktu mulai paling awal (ES) bagi kegiatan 5-6. Atau dapat dinyatakan bahwa untuk node 5 berlaku aturan sebagai berikut :

Aturan ke 3.

Bila suatu kegiatan memiliki dua atau lebih kegiatan-kegiatan terdahulu yang menggabung, maka waktu mulai paling awal (ES) kegiatan tersebut adalah sama dengan waktu selesai paling awal (EF) yang terbesar dari kegiatan terdahulu.



Umpamakan c pada Gambar dibawah atas memiliki EF terbesar dari kegiatan-kegiatan lain yang mendahului d, maka ES dari d adalah sama dengan EF dari c. Atau bila EF (c) > EF(b) > EF(a), maka ES (d) = EF (c). Jadi berdasarkan AT-3, maka waktu selesai paling awal kegiatan 5-6 adalah :

EF (5-6) = EF(4-5) + 3 = 13 + 3 = 16

Bila hasil-hasil perhitungan tersebut dicatat dalam suatu format, akan dihasilkan tabulasi seperti pada Tabel dibawah ini. Oleh karena kegiatan 5-6 adalah kegiatan terakhir dari proyek, maka selesainya kegiatan 5-6 berarti juga waktu selesainya proyek, yaitu pada hari ke-16.

Tabel Hasil perhitungan maju

Hitungan Mundur

Perhitungan mundur dimaksudkan untuk mengetahui waktu atau tanggal paling akhir kita "masih" dapat memulai dan mengakhiri masing-masing kegiatan tanpa menunda kurun waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan, yang telah dihasilkan dari hitungan maju.

Hitungan mundur dimulai dari ujung kanan ( hari terakhir penyelesaian proyek ) suatu jaringan kerja. Untuk jelasnya, kembali dipakai contoh di atas di mana kurun waktu penyelesaian proyek adalah 16 hari (lihat Tabel diwah ini) .
Tabel hasil Perhitungan Mundur

Agar tidak menunda penyelesaian proyek maka hari ke-16 harus merupakan hari/waktu paling akhir dari kegiatan proyek, atau waktu paling akhir peristiwa boleh terjadi, L(6) = EF(5-6) = 16, dan LF(5-6) = L(6).

Untuk mendapatkan angka waktu mulai paling akhir kegiatan 5-6, maka dipakai aturan jaringan kerja yang menyatakan bahwa :

Aturan Ke 4. 

Waktu mulai paling akhir suatu kegiatan adalah sama dengan waktu selesai paling akhir dikurangi kurun waktu berlangsungnya kegiatan yang bersangkutan, atau LS = LF-D

Jadi, untuk kegiatan 5-6 dihasilkan :

LS(5-6) = LF(5-6) - D atau  = 16 - 3 = 13

Selanjutnya, bila kegiatan 5-6 mulai pada hari ke-13, maka ini berarti kedua kegiatan yang mendahuluinya harus diselesaikan pada hari ke-13 juga, sehingga LF dari kegiatan 4-5 dan 3-5 adalah sama dengan LS dari kegiatan 5-6, yaitu hari ke-13.

Dengan memakai aturan Aturan 4 di atas, dihasilkan angka-angka berikut:

Kegiatan 4-5, maka LS (4-5) = 13 - 6 = 7
Kegiatan 3-5, maka LS (3-5) = 13 - 4 = 9
Kegiatan 2-4, maka LS (2-4) = 7 - 5 = 2
Kegiatan 2-3, maka LS (2-3) = 9 - 3 = 6
Kegiatan 1-2, maka LS (1-2) = 2 - 2 = 0

Dengan meninjau peristiwa atau node 2, di mana terdapat kegiatan yang "memecah" menjadi dua (atau lebih), maka berlaku aturan sebagai berikut :

Aturan ke 5. 

Bila suatu kegiatan memiliki (memecah menjadi) 2 atau lebih kegiatankegiatan berikutnya (successor)seperti diperlihatkan Gambar dibawah ini, maka waktu selesai paling akhir (LF) kegiatan tersebut adalah sama dengan waktu mulai paling akhir (LS) kegiatan berikutnya yang terkecil.

Bila LS(b) < LS(c) < LS(d) maka LF(a = LS (b).
Untuk contoh di atas, maka LF(1-2) = LS(2-4) = 2.

Demikianlah Materi tentang Cara Menyusun Jadwal dengan Metode Jalur Krtitis ( CPM ). Aturan selanjutnya untuk menyusun Jadwal menggunakan CPM ini bisa anda baca pada Materi berikutnya yaitu tentang  Menghitung Jalur Kritis dan Float Jadwal Proyek. Jika anda menyukai materi ini bisa anda IKUTI Updetannya melaui Fecebook.

KLIK IKUTI





TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menyusun Jadwal Metode Jalur Kritis ( CPM )
Ditulis oleh Taufick Max
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://kampus-sipil.blogspot.co.id/2014/01/menyusun-jadwal-metode-jalur-kritis-cpm.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Share on :

0 komentar:

Poskan Komentar

MOHON MASUKAN DAN PENDAPAT ANDA TENTANG ARTIKEL DI ATAS JIKA DALAM TULISAN ADA YANG SALAH MOHON SARAN DAN KRITIKANNYA DALAM RANGKA PENYEMPURNAAN ILMU TEKNIK SIPIL SAYA

Materi Populer